Tolak Inter-Tabac ASIA 2014

LOGOIndustri rokok menjadikan negara-negara yang memiliki mayoritas penduduk berpenghasilan rendah dan menengah sebagai target pasar mereka. Jika industri rokok ini berhasil, konsekuensinya adalah populasi di negara tersebut akan hancur dan angka kematian akan meningkat secara dramatis.

Indonesia dianggap sebagai negara yang “Ramah Rokok” dan sebagai pasar yang berkembang pesat untuk industri rokok. Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di dunia dimana industri rokok dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan. Hampir tidak ada perlindungan hukum untuk melindungi penduduk dari jeratan industri rokok. Peraturan yang lemah menyebabkan penjualan rokok terhadap anak-anak masih dilakukan industri rokok. Iklan rokok yang semakin massif menyebabkan meningkatnya prevalensi perokok anak berumur 13-15 tahun menjadi lebih dari 40%.

Bacaan Lainnya

Konsumsi rokok juga merupakan masalah kemiskinan. Mengacu kepada WHO, perokok di Indonesia menghabiskan rata-rata 450 ribu rupiah per bulan untuk membeli rokok.  Konsumsi rokok berdampak langsung terhadap keadaan pangan. Mempromosikan penjualan rokok mengakibatkan kemiskinan!

Kota Dortmund akan mempromosikan pameran perdagangan rokok di Indonesia, di mana rokok dapat secara sah dijual kepada anak-anak. Kota ini memiliki Westfalenhallen Dortmund GmbH, yaitu perusahaan yang mengatur pemeran perdagangan rokok Inter-tabac ASIA, yang untuk pertama kalinya diadakan di Indonesia, dan bakal berlangsung pada tanggal 27-28 Februari 2014, di Bali. Kota Dortmund secara langsung akan mempromosikan rokok di negara di mana anak-anak tidak terlindungi dari bahaya merokok.

Oleh karena itu kami, Yosef Rabindanata Nugraha (22 tahun) – dari Jakarta , dan Max Vollmer (27 tahun) – dari Dortmund (Jerman), menginginkan agar Kota Dortmund untuk membatalkan pameran perdagangan rokok Inter-tabac ASIA.

Mereka berhasil menjebak saya, Yosef, anak Indonesia, saat saya berusia 12 tahun. Saya sangat beruntung karena berhasil berhenti merokok ketika berusia 19 tahun, tapi tidak untuk anak-anak seumuran saya. Maka saya tidak ingin negara saya menjadi tujuan industri rokok dalam menjual produk mereka.

Saya, Max dari Kota Dortmund, sangat terkejut dengan keterlibatan yang tidak bertanggung jawab dari kampung halaman saya dalam bisnis rokok. Sampai sekarang walikota dan dewan kota tidak bersedia untuk mengubah situasi. Mereka lari dari tanggung jawab mereka untuk menginstruksikan Westhallenhallen agar menghentikan pameran perdagangan rokok di Indonesia dengan segera. Sangat sulit untuk melawan industri rokok global. Sekarang ini, petisi adalah pilihan yang efektif. Karena jika banyak orang menandatangani petisi ini, maka kota tidak dapat melakukan investasi terhadap kehendak warga negara mereka.

Kami menyerukan Ullrich Sierau, Walikota Dortmund untuk:

1. Menghentikan penyelenggaraan Inter-tabac ASIA

2. Memastikan bahwa Westfalenhallen Dortmund GmbH tidak lagi menyelenggarakan pertemuan terkait perdagangan rokok di Indonesia maupun negara-negara lainnya di dunia, di masa yang akan datang.

3. Menjauhkan diri dari industri rokok, mengedepankan kesehatan di atas keuntungan perusahaan, baik di Indonesia maupun di Dortmund.

Tolong dukung kami untuk membuat Kota Dortmund mengubah keputusannya.Tanda tangani petisi kami sekarang. Petisi ini ditujukan kepada walikota Dortmund, Ullrich Sierau, dan ketua dewan pengawas dari Westfalenhallen Dortmund GmbH, Friedhelm Sohn. Tolong sampaikan link petisi ini ke teman-teman dan kenalan: www.change.org/dortmundkills. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Terima kasih, Yosef dan Max.

Max dan Yosef mendapatkan dukungan terhadap petisinya dari Campaign Dortmund Kills. Dortmund Kills diselenggarakan oleh Forum Rauchfrei (“Forum Bebas Asap Rokok”), Deutscher Jugendschutzverband (“Asosiasi Jerman untuk perlindungan remaja”), Indonesia Bebas RokokUnfairtobacco.org and Stiftung rauchfrei leben (“Foundation smokefree living”).

Yosef Rabindanata Nugraha, Max Vollmer, Dortmund Kills

(/REL)

Loading...

Pos terkait