Tercatat, 13.896 Kasus ISPA di Sumbar Sejak Awal Tahun 2014

  • Whatsapp
IMG_2194
Pelajar SMA N 2 Padang menggunakan masker saat belajar guna menghindari kabut asap di Kota Padang. FOTO/HUDA

Namun, angka tersebut dari minggu ke minggu tidak menujukkan peningkatan kasus. “Ini termasuk naik dari tahun 2013, tetapi belum ada menunjukkan peningkatan di tahun 2014. Kami dari pihak Dinas Kesehatan meminta masyarakat supaya dapat lebih memperhatikan betul kondisi kesehatannya, terutama anak-anak yang sangat rentan terjangkit ISPA,“ kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Rosnini Savitri di ruangannya, Kamis (13/3).

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit (RS) M. Djamil Padang, Oea Kharisyaf menjelaskan bahwa faktor resiko kanker paru dipicu oleh sejumlah faktor. Polusi udara karena kabut asap salah satunya setelah itu baru rokok.

Bacaan Lainnya

”Dampak jangka pendek ya ISPA, bagi penderita asma, nafasnya tambah sesak. Kemudian paru obstruktif kronik (PPOK), hingga infeksi disaluran pernapasan,” katanya saat ditemui di RS M. Djamil Padang.

Sebagai antisipasi dari dampak kabut asap, dia menyarankan masyarakat sebisa mungkin tidak beraktivitas di luar rumah. Terutama bagi anak-anak, ibu hamil dan manula. Jika keluar rumah diimbau menggunakan masker berkualitas. Bukan masker kertas yang dapat ditembus partikel-partikel kabut asap.

“Ada pun masker yang dimaksud masker yang digunakan untuk menghadapi pasien flu burung atau N 95. Masker ini biasa tersedia di apotik-apotik,” jelasnya.

Perlu diketahui dikutip dari VoA Indonesia menyatakan bencana asap menyebabkan kanker paru dan kematian dalam 10 tahun ke depan. Seperti bencana asap di Kawasan Riau, Kalimantan dan Sumatera.

Tidak hanya sekadar sesak nafas, penyakit yang kemungkinan besar muncul adalah bronkhitis akut, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang bisa mengakibatkan gagal nafas dan juga kanker paru. [G]

Editor : WAN

Loading...

Pos terkait