Puluhan Ton Ikan Mati, Petani Keramba Danau Maninjau Merugi

Keramba jala apung di Danau Maninjau. FOTO/KOMAPOST
Keramba jala apung di Danau Maninjau. FOTO/KOMAPOST
Keramba jala apung di Danau Maninjau. FOTO/KOMAPOST

Petani keramba Jala Apung Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat mengaku mengalami kerugian besar. Pasalnya dalam sepuluh hari belakangan, ikan Keramba mereka mati hingga puluhan ton.

“Perubahan siklus alam dan diduga KHV adalah penyebab matinya ikan petani keramba jala apung di Danau Maninjau,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Yosmeri, Rabu (5/2).

Baca Juga

Menurutnya, perubahan siklus alam tidak dapat diprediksi bahkan dihindari. Seharusnya, hal ini tidak hanya menjadi perhatian bagi penambak ikan di Danau Maninjau, tetapi seluruh petambak ikan di daerah manapun.

Siklus iklim ini juga memicu berubahnya suhu air pada Danau Maninjau yang berakibat udara dasar danau menjadi hampa. “Suhu bawah naik ke atas, sehingga kandungan amoniak yang muncul mematikan ikan yang ada didalam keramba,” jelasnya.

Ikan milik petani yang paling banyak mati terdapat di kawasan Bayu, dan Gasang. Sekitar sepuluh ton ikan yang didominasi jenis Mas dan Nila mati. “Adanya virus KHV ditambah perubahan iklim, kami pun kini merugi,” kata Riki, pengusaha Keramba Ikan di Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Mutiara, Agam saat dihubungi via seluler.

Banyak-nya ikan yang mati di Danau Maninjau dinilai adalah bencana tahunan bagi para petani. “Itu bencana usaha rutin tahunan, yang bisa diprediksi dan diantisipasi, mengingat kejadiannya biasa terjadi antara November hingga Februari,” tuturnya.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat dengan jelas menunjukkan adanya naik turun dalam jumlah ikan mati di Danau Maninjau setiap tahunnya.

Besarnya pun tidak beraturan, misalkan saja pada tahun 2007, ikan yang mati hanya 1.000 ton, sedangkan pada tahun 2009 mencapai 15.000 ton. Tapi, ditahun 2013 menyusut yang diperkirakan hanya puluhan ton.[KS]

Loading...

Rekomendasi

DomaiNesia