Program Daya BTPN Depankan Usaha Mikro

Workshop Peluang dan Tantangan Pembiayaan Mikro 2014. FOTO/WAN
Workshop Peluang dan Tantangan Pembiayaan Mikro 2014. FOTO/WAN
Workshop Peluang dan Tantangan Pembiayaan Mikro 2014. FOTO/WAN

Harian Bisnis Indonesia bersama BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional) menggelar Media Workshop bertemakan “Financial Inclusion – Peluang dan Tantangan Pembiayan Mikro 2014” bertempat di Mercure Hotel, Kota Padang, Jumat (21/3) sore. Hadir sebagai pembicara, Ekonom CIDES Umar Juoro dan Kepala Daya BTPN David Freddynanto.

Umar dalam pemaparannya menyebutkan, saat ini, jumlah masyarakat Indonesia yang belum tersentuh jasa layanan keuangan seperti transfer, menabung maupun kredit terbilang masih tinggi.

Baca Juga

Disebut Umar, hal ini terlihat pada Survei World Bank tahun 2011 menunjukkan bahwa hanya 47 persen masyarakat penabung dan 17 persen masyarakat peminjam di Indonesia.

“Contoh lain pada penyaluran kredit ke UMKM, data BI (Bank Indonesia) menunjukkan pada Desember 2012 bahwa pembiayaan Bank pada sektor UMKM 526,4 Triliun atau sekitar 19 persen dari total penyaluran kredit yakni 2.707,86 Triliun. Oleh karena itu, disimpulkan, penetrasi pembiayaan ke pelaku UMKM, khususnya mikro masih sangat rendah,” katanya.

Menurutnya, rendahnya penetrasi finansial ini disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya kemampuan pelaku usaha mikro dalam melakukan pencatatan dan pengelolaan uang.

Bahkan, masih banyak masyarakat menganggap berhubungan dengan Bank itu rumit, serta adanya rasa tidak percaya diri untuk mengembangkan usaha.

“Dibutuhkan inovasi baru agar keuangan inklusif bisa berjalan. Pemberian pinjaman modal kepada masyarakat saja tidak cukup tanpa adanya peningkatan kapasitas bagi para pelaku UMKM,” jelasnya.

Umar menyebut, peningkatan keuangan inklusi tersebut itu bisa dibangun dengan cara lebih meningkatkan kesinergian antara Bank dengan masyarakat agar informasi yang diperoleh pun dapat dimengerti sejelasnya.

“Banyak masyarakat yang masih belum tahu tentang apa itu sistem keuangan inklusi, jadi Bank dengan masyarakat harus selalu menjaga kepercayaan. Pihak Bank pun juga dihimbau agar tidak membedakan antara masyarakat menengah dengan diatasnya,” harapnya.

Berlandaskan itulah, BTPN melalui program DAYA melakukan pemberdayaan mass market yang terukur dan berkelanjutan, dimana program ini diperuntuhkan bagi seluruh kalangan masyarakat.

Program DAYA sendiri terbagi menjadi empat tipe unit bisnis yaitu BTPN Purna Bakti (fokus melayani nasabah pensiunan), BTPN Mitra Usaha Rakyat (fokus melayani pelaku usaha mikro dan kecil), BTPN Syariah (fokus melayani nasabah dari komunitas pra-sejahtera produktif) dan BTPN Sinaya (fokus melayani pendanaan).

“BPTN tidak hanya membuat nasabah memiliki akses finansial, tapi juga membuat mereka melek (terbuka) finansial. Hasilnya, setiap nasabah pun bisa memiliki kemampuan mengelola keuangan dan usaha mereka,” kata Kepala DAYA BTPN, David Freddynanto.

David menyakini dengan adanya pemberdayaan dan pendampingan oleh BTPN kepada masyarakat secara berkelanjutan dapat berdampak pada kualitas kredit dan loyalitas debitur.

Disebutnya, berdasarkan data hasil penelitian dari Manajemen dan Bisnis IPB (MB IPB) dan BTPN pada Februari 2014 lalu menunjukkan bahwa korelasi positif antara frekuensi mengikuti program pelatihan dengan peningkatan omzet biaya operasional dan penurunan biaya operasional usaha nasabah.

“Tentu, nasabah yang disiplin mempraktekkan pelatihan keuangan dalam mengelola usahanya dapat langsung mendapatkan efek manfaat dari pelatihan program DAYA tersebut,” tutupnya.

Loading...

Rekomendasi

DomaiNesia