Produksi Teh Indonesia Semakin Melorot Tiap Tahunnya

  • Whatsapp
Kebun Teh di Indonesia. Foto : pekanbaru.co
Kebun Teh di Indonesia. Foto : pekanbaru.co
Kebun Teh di Indonesia. Foto : pekanbaru.co

Jumlah produksi teh di Indonesia dari tahun ke tahun menurun. Hingga 2009, produksi teh mencapai 162.888 ton per tahunnya. Tetapi, pada 2012 produksi tahunan teh hanya 137.248 ton dan terus menurun hingga 2014 ini.

“Penurunan produksi ini juga diakibatkan karena penyusutan lahan perkebunan teh yang diganti dengan tanaman lainnya yang jauh lebih ekonomis,” kata Rachmad Gunadi, Direktur PT Pagilaran di Yogyakarta, Sabtu 6 November 2014.

Penurunan produksi teh tersebut juga menyebabkan peringkat Indonesia sebagai negara penghasil teh semakin melorot hingga urutan ke-tujuh dunia.

“Produksi teh kita masih di bawah Vietnam dan Turki,” jelasnya.

Menurutnya, penurunan jumlah produksi teh juga menyebabkan ekspor terus turun tiap tahunnya. Pada 2009 ekspor teh mencapai 92.000 ton, sedangkan pada 2012 turun menjadi 70.071 ton.

“Teh yang diekspor adalah teh kelas premiun yang harganya relatif tinggi dan terbanyak teh diekspor ke kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi,” ungkapnya.

Kebutuhan Meningkat

Diakui Rachmad, kebutuhan teh untuk dalam negeri memang terus meningkat karena pertambahan penduduk, tetapi teh yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya adalah teh kelas bawah yang harganya relatif murah.

“Kita setiap hari biasanya mengkonsumsi teh, namun kita tidak tahu bahwa teh yang kita konsumsi merupakan teh kelas rendahan,” paparnya.

Lily Gunawan, Direktur PT Gunung Subur, salah perusahaan pembuat teh mengaku, permintaan teh untuk dalam negeri cukup tinggi, tetapi sayangnya banyak juga teh dari luar negeri yang masuk ke Indonesia dengan harga yang selangit.

“Anda tahu tidak? Bahan teh yang mereka produksi juga berasal dari Indonesia. Setelah diolah menjadi produk teh dengan merk tertentu, kembali dijual ke Indonesia,” katanya.

Menurutnya, jika di dalam negeri banyak yang mengkonsumsi jenis teh hitam, maka di luar negeri seperti Amerika dan Eropa, mereka lebih banyak mengkonsumsi teh hijau karena untuk kesehatan.

“Dan yang benar meminum teh seharusnya tidak menggunakan gula, karena gula tidak sehat dikonsumsi dan rasa dari teh yang dikonsumsi akan berubah,” jelasnya.

Perkebunan teh dan perusahaan pengolah teh yang ada di Indonesia sangat banyak menyerap tenaga kerja. Dia memperkirakan mencapai 300.000 karyawan atau mampu menghidupi sekitar 1,7 juta jiwa.

“Karyawan yang bekerja di kebun teh mulai dari orang yang tidak tamat sekolah hingga lulusan perguruan tinggi dengan gaji disesuaikan UMK (upah minimum kabupaten/kota) masing-masing daerah,” jelasnya.

Tea Party

Achmadi Priyatmojo, Dosen Fakultas Pertanian UGM mengatakan, untuk mendorong teh semakin mendapat tempat di hati masyarakat dan punya nilai ekonomis yang tinggi, sehingga ada pemerataan bisnis mulai dari tingkat hulu hingga hilir, maka berbagai perusahaan teh di Indonesia akan menggelar acara Jogja Tea Party 2014.

Acara tersebut akan digelar pada tanggal 12-14 Desember 2014 mendatang di Benteng Vredebrug.

“Dipilihnya Yogya sebagai tempat Jogja Tea Party karena adanya budaya di Keraton Yogyakarta yang dikenal dengan Patehan yaitu ritual menyajikan minuman teh untuk Raja Keraton Yogyakarta,” kata Achmadi yang juga ketua panitia Jogja Tea Party 2014.

Dalam Jogja Tea Party 2014 juga akan digelar kompetisi meracik minuman teh yang paling nikmat rasanya yang akan diikuti oleh puluhan pedagang angkringan dan juga petani teh yang ada di Indonesia.

“Nantinya ada master tea yang akan menjadi juri untuk menentukan racikan teh yang mempunyai cita rasa tinggi,” tuturnya. (ren)

(viva.co.id)

Loading...

Pos terkait