Pro Kontra Kebijakan Kemenhub

Maskapai Penerbangan Indonesia Foto: arrahmah.com
Maskapai Penerbangan Indonesia Foto: arrahmah.com
Maskapai Penerbangan Indonesia Foto: arrahmah.com

Kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait menaikkan tarif maskapai menjadi 40 persen dari batas atas masih menuai pro dan kontra. Hal ini disebabkan karena kebijakan ini akan merugikan bahkan menghapuskan bisnis maskapai penerbangan yang bertarif murah (low cost carrier). Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pun telah menandatangani peraturan tarif batas bawah yang hanya memperbolehkan maskapai menjual tiket 40 persen dari tarif batas atas yang ada.

Ignasius Jonan menyatakan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan penerbangan serta keamanan dan keselamatan penumpang. Penerbangan bertarif murah dianggap tidak rasional karena biaya perawatan pesawat yang cukup mahal sehingga dikhawatirkan akan mengorbankan keselamatan penumpang.

Bacaan Lainnya

“Kita ini membantu, artinya penerbangan kita harus sehat bukan harus murah,” ujarnya.

Kebijakan ini memang diambil Kemenhub setelah kejadian jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 Desember silam untuk memperbaiki penerbangan Indosesia dan meregulasi agar kecelakaan tidak kembali terjadi.

Hal ini juga didukung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyatakan agar maskapai penerbangan tidak bersaing menawarkan tiket namun mengabaikan keselamatan penumpang. Akan tetapi, beliau menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menghapuskan maskapai bertarif murah.

“Bukannya ingin menghapuskan, tetapi jangan karena tiket memburu penumpang sehingga mengabaikan keselamatan,” katanya.

Dukungan serupa juga diberikan Direktur Utama Merpati Airlines, Sardjono Djony, yang berpendapat bahwa kebijakan Menhub tersebut akan membuat maskapai penerbangan bersaing secara sehat dari faktor pelayanan bukan dari persaingan harga tiket. Namun, ia juga tidak memandang bahwa pelayanan maskapai murah lebih rendah daripada maskapai lain.

Akan tetapi, Gerry Soerjatman seorang pengamat penerbangan tidak setuju dengan kebijakan Kemenhub tersebut. Ia berpendapat bahwa kecelakaan pesawat tidak berhubungan dengan tiket murah yang ditawarkan maskapai. Sebaliknya, tiket penerbangan bertarif murahlah yang membantu bisnis Indonesia karena banyak pebisnis yang terbang menggunakan pesawat bertarif murah.

“Karena tiket murah ini juga Indonesia terbebas dari resesi yang mengancam,” tegasnya.

Salah seorang pengguna jasa maskapai penerbangan bertarif murah pun juga keberatan dengan kebijakan Menhub tersebut. Menurutnya, masyarakat akan sulit untuk melakukan perjalanan keluar kota karena kebanyakan masyarakat akan memilih terbang dengan pesawat yang tiketnya lebih murah.

Kebijakan lain terkait investigasi jatuhnya AirAsia QZ8501 juga dilakukan oleh Kemenhub dengan pembekuan izin terhadap 61 penerbangan dari 5 maskapai pada Jumat (9/1) kemarin. Dikarenakan memiliki izin yang bermasalah, maskapai-maskapai tersebut diharuskan mengajukan izin kembali kepada Kemenhub dengan persyaratan lengkap agar bisa terbang. Sebelumnya Menhub pernah menyatakan bahwa akan mulai menyelidiki dugaan jual beli slot izin terbang hingga meninjau ulang tiket bertarif murah.

Loading...

Pos terkait

Hosting Unlimited Indonesia