Pengadilan Politik Demokrat

Lambang Partai Demokrat. Foto : Istimewa

DEMOKRATPEMILU 2014 menjadi momen pertaruhan politik terbesar yang menentukan kelanjutan kiprah Partai Demokrat dalam perpolitikan negeri ini. Menghadapi hari ”penghakiman” politik tersebut, ada dua pilihan yang kini tersisa bagi partai pemenang Pemilu 2009 itu.

Pilihan pertama adalah membiarkan terus terpuruk. Adapun pilihan kedua, bertahan di tengah keterpurukan, menyatukan kembali puing-puing kehancuran, sambil merancang bakal terbangunnya rumah politik yang kokoh di masa depan.

Bacaan Lainnya

Pilihan pertama adalah jalan termudah. Satu tahun terakhir, gambaran keterpurukan itu nyata. Popularitas partai merosot secara konsisten. Prediksi tingkat keterpilihan dalam pemilu mendatang pun semakin mengecil.

Berdasarkan hasil survei longitudinal Kompas, jika pada bulan Desember 2012 tingkat keterpilihan Demokrat masih sekitar 11,6 persen, setahun kemudian menjadi 7,2 persen. Dibandingkan dengan pencapaian pada Pemilu 2009, yaitu 20,9 persen suara, artinya tingkat keterpilihan Demokrat pada Desember 2013 tinggal sekitar sepertiganya.

Saat ini, Partai Demokrat juga harus berjibaku menghadapi lemahnya loyalitas pendukung. Dibandingkan dengan hasil survei sebelumnya, saat ini maksimal hanya sepertiga pendukung partai itu yang tergolong loyal, tetap bertahan di Demokrat. Lainnya tersedot, mengalihkan dukungan ke Golkar, PDI-P, ataupun Nasdem dan Hanura. Sementara upaya menarik pendukung partai lain ke Demokrat hasilnya belum terlalu signifikan.

Demokrat juga dihadapkan pada semakin menguatnya resistensi politik para pemilih. Jika setahun lalu sebanyak 12 persen calon pemilih mengaku tidak menginginkan Demokrat menang pemilu, kini meningkat menjadi sekitar 17 persen.

Pilihan pahit

Menurunnya elektabilitas, rendahnya loyalitas, dan meningkatnya resistensi partai adalah persoalan terberat yang kini dihadapi Partai Demokrat. Membiarkan semua itu terjadi hanya membuat Demokrat makin terpuruk. Sebagai aset politik nasional, bertahan dalam keterpurukan idealnya menjadi prioritas pilihan sekalipun rasanya pahit.

Persoalan selanjutnya, pola bertahan seperti apa yang efektif dilakukan? Merujuk pada karakter pemilih Demokrat yang tersisa, yang menurut hasil survei cenderung berasal dari pedesaan, lebih dominan kalangan berkarakter psikopolitik konservatif, cenderung berpola pikir pragmatis, dan lebih menjunjung tinggi tatanan yang bersifat hierarki ketimbang egaliter, maka kekuatan sosok masih menjadi kunci penentu Demokrat dalam mempertahankan pendukungnya.

Terkait dengan kekuatan sosok, setidaknya tiga modal politik yang kini menjadi ujung tombak Demokrat pada Pemilu 2014.

Pertama, sekaligus yang paling utama, adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang masih cukup besar diapresiasi publik. Bagi publik, Demokrat identik dengan Yudhoyono. Dalam sejarahnya, Demokrat adalah kendaraan politik Yudhoyono untuk bertarung pada Pemilu 2004 dan 2009. Dengan langsung turun tangan jadi ketua umum di Demokrat, Yudhoyono jadi penarik utama dukungan bagi partai.

Di barisan kedua, Demokrat memiliki 11 peserta konvensi Demokrat. Pengoptimalan kesebelas peserta konvensi sebagai aset partai dalam menahan laju penurunan elektabilitas bukan langkah sia-sia.

Ujung tombak lain adalah barisan calon anggota legislatif (caleg) Demokrat yang akan bertarung di 77 daerah pemilihan. Dari sekitar 557 caleg yang terdata, latar belakang potensi mereka cukup dekat dengan karakteristik psikopolitik pendukung Demokrat yang tersisa.

Dengan modal politik itu, Demokrat berupaya lolos di penghakiman Pemilu 2014.

(Sumber:Kompas.com)

Loading...

Pos terkait