Pajak PPN Emas 2 Persen ? Pedagang Bisa Gulung Tikar !

Perhiasan Emas.
Perhiasan Emas.

Pedagang emas dan perhiasan di Kota Padang sepertinya akan resah. Pasalnya, pajak dua persen bagi pelanggan emas yang diturunkan oleh Permenkeu bisa mematikan usah pedagang emas tersebut.

Turunnya Peraturan Menteri yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan RI, Muhammad Chatib Basri pada 10 Februari 2014 disosialisasikan antara sejumlah pedagang emas termasuk Ketua Asosiasis Pedagang Emas Permata Indonesia (APEPI) Padang di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Padang, Kamis (20/3) kemarin.

Baca Juga

Menanggapi hal tersebut, Ketua KPP Pratama Padang, Budi Gunawan mengatakan, jika sebagaimana diketahui bahwasannya penyerahan Emas Perhiasan dan jasa yang terkait dengan Emas Perhiasan oleh Pengusaha Emas  Perhiasan terutang Pajak Pertambahan Nilai.

“Jadi, apapun yang berkaitan dengan emas baik itu emas murni maupun dicampur atau bercampur dengan perak atau platina atau batu permata, maka dikenakan PPN sebagaimana ketentuan yang tertulis dalam Permenkeu tersebut,” katanya di Padang, Jumat (21/3).

Untuk itu, pertemuan digelar untuk melakukan sosialisasi dan sekaligus edukasi terhadap masyarakat sebagai pembayar pajak orang pribadi (OP) yang memang pada kenyataannya penyumbang pajak relatif kurang. ”Ini juga sebagai edukasi positif bagi masyarakat. Karena memang OP menjadi penyumbang terkecil pajak. Hanya dua setengah persen saja,” tuturnya.

Sementara, Ketua APEPI Padang, Havid menyebutkan, adanya peraturan terbaru yaitu Permenkeu Nomor 30/PMK.03/2014 Tanggal 10 Februari 2014 Tentang PPN Atas Penyerahan Emas Perhiasan disebut sebagai salah satu cara mematikan usaha para pedagang emas.

“Ini sama saja dengan mematikan usaha pedagang emas, dengan nilai segitu, keinginan pelanggan untuk membeli emas sudah dipastikan berkurang,” katanya.

Ditegaskannya, keluarnya aturan baru ini otomatis diperkirakan para pedagang emas dan perhiasan akan cepat gulung tikar alias bangkrut. ”Kami dari APEPI memang menolak tegas-tegas Permenkeu tersebut, selain tidak diterima oleh konsumen, ini juga bisa mematikan usaha kami,” tegasnya.

APEPI Padang juga menyayangkan pemberlakuan pajak sebesar dua persen ini tidak diketahui oleh APEPI Pusat. ”Padahal kami saja mendapatkan keuntungan itu tidak sampai satu persen, ini ada lagi pajak kepada pelanggan, tentu ini menjadi permasalahan bagi kami,” jelasnya.

Terpantau, tampak sejumlah toko emas yang berada di Pasar Raya, Kota Padang, hari ini sepi pembeli. Sejumlah pembeli mengaku enggan membeli emas karena diberlakukannya pajak tersebut. ”Sedangkan tidak dipajak saja sudah malas membeli, apalagi kena pajak,” kata Ani, salah seorang pengunjung.

Loading...

Rekomendasi

DomaiNesia