Muhtar Ependy Sering Minta Info Sidang MK

  • Whatsapp
image
Muhtar Ependy

Muhtar Ependy yang merupakan
orang dekat mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil
Mochtar sering meminta informasi jadwal sidang
kepada petugas keamanan lembaga peradilan tersebut.

“Banyak hal yang saya informasikan berkaitan dengan
persidangan, nama perkara yang masuk, pemohon,
termohon,” kata petugas keamanan Zulhafis, dalam
sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
Jakarta, Kamis.

Zulhafis bersaksi untuk terdakwa Wali Kota Palembang
Romi Herton dan istrinya Masyito yang didakwa
mempengaruhi putusan perkara permohonan keberatan
hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota
Palembang yang sedang ditangani oleh Akil.

“Kalau jadwal kita tanya kepada pihak panitera, kan
ada bagian penerimaan permohonan. Jadwal ada, tapi
tidak semua jadwal diterbitkan setiap hari,” ungkap
Zulhafis.

Zulhafis menjelaskan bahwa ia sudah kenal Muhtar
sejak Oktober 2013.
“Kalau menanyakan perkara Palembang, memang pada
waktu itu kebetulan perkara Oktober 2013 semua
yang masuk perkara Palembang saat itu yang masuk
memang Palembang, Empat Lawang dan Banyuasin,”
tambah Zulhafis.

Atas pemberian informasi tersebut, Zulhafis mendapat
imbalan uang hingga Rp2,5 juta.
“Saya pernah dikasih uang pulsa bapak Muhtar
Ependy, pertama Rp1 juta. Kasih saya untuk
kebutuhan Lebaran karena dekat Lebaran. Saya
terima 3 kali, Rp1 juta, kedua Rp500 ribu, ketiga Rp1
juta,” jelas Zulhafis.

Alasan pemberian itu adalah sebagai balas jasa karena
sudah banyak memberikan informasi berkaitan dengan
sidang.
Muhtar misalnya, pernah mengirimkan pesan singkap
pada 5 Juni 2013 berbunyi “Ada ide gak gimana cara
kasih no telepon kepada terkait?” Lalu dijawab
Zulhafis “Kalau kita susah bos, banyak intel, tapi
kalau bos gampang masuk saja ruang terkait?”
“Maksud SMS itu menghubungkan pihak berperkara
dengan Muhtar Ependy atau memberikan nomor
kontak dengan pihak berpekara.

Terkait intel kita
sebagai `security` MK, kita tidak boleh ketemu pihak
berperkara. Jadi diawasi pengawas internal. Itu yang
dimaksud Intel,” jelas Zulhafis.

Pada awalnya Zulhafis tidak mengetahui pekerjaan
Muhtar, namun akhirnya mengetahui bahwa Muhtar
adalah broker.
“Saya tidak tahu awalnya. Setelah tahu-tahu, ternyata
bapak ME (Muhtar Ependy) adalah sebagai seorang
broker atau makelar kasus karena banyaknya kasus-
kasus, terutama Pak ME tanya banyak perkara-
perkara yang masuk di MK, beliau tanya ke saya
berkaitan dengan persidangan,” tegas Zulhafis.

Romi Herton dan Masytio dalam perkara ini didakwa
dengan pasal 6 ayat 1 huruf a atau pasal 13 UU No.
13 tahun 1999 jo pasal 20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55
ayat 1 ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.
Pasal perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu
kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi
putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk
diadili dengan ancaman pidana 3-15 tahun penjara
dan denda Rp50 juta hingga Rp750 juta.

Selain didakwa menyuap hakim, jaksa juga mendakwa
Romi dan Masyito melakukan perbuatan dengan
sengaja tidak memberi keterangan atau memberi
keterangan yang tidak benar. (ar)

(Antara)

Loading...
  • Whatsapp

Pos terkait