Mucikari Dolly Hidup dari 10 Persen Ongkos Kencan

  • Whatsapp
Gang dolly dulunya. Foto : Tempo

 

Gang dolly dulunya. Foto : Tempo
Gang dolly dulunya. Foto : Tempo

Seorang pria paruh baya bertubuh tambun berdiri di depan salah satu wisma Di Gang Dolly, Selasa (17/6/2014). Dia mempersilakan para lelaki yang melintas di Gang Dolly malam itu untuk mampir dan melihat-lihat perempuan yang dipajang di etalase wisma.

Aktivitas itu dilakukannya sejak pukul 19.00 WIB hingga menjelang pagi setiap harinya. Solikin (53) yang dikenal dengan nama Gendut di kalangan mucikari di Gang Dolly sudah 24 tahun bekerja sebagai mucikari di Dolly.

Upahnya, 10 persen dari ongkos kencan tamu para PSK. 

“Di sini, tarif kencan dengan PSK Rp 100.000 untuk sekali kencan, jadi saya dapat Rp 10.000 dari setiap tamu,” kata pria asal Kota Batu, Jawa Timur ini.

Kadang-kadang, selain dari honor pokok itu, dia juga diberi uang tip dari tamu, atau sekadar sebungkus rokok. Kata Solikin, semua wisma menerapkan sistem yang sama dalam menggaji mucikarinya, yakni 10 persen dari biaya kencan.

Jika ongkos kencannya Rp 200 ribu, maka si mucikari mendapat Rp 20 ribu. 

“Setelah dipotong mucikari 10 persen, baru sisanya dibagi dua antara PSK dan pemilik wisma,” ujarnya.

Bapak enam orang anak ini sangat menggantungkan hidupnya dari profesi ini. Dia harus menghidupi dua isteri dan enam orang anaknya di kampung halaman. 

“Ya kalau pemerintah menutup Dolly, terus saya kerja apa, wong saya bisanya cuma mencari tamu. Usaha isteri di kampung tidak bisa diandalkan,” tambahnya.

Semenjak ada isu penutupan Dolly, Solikin mengaku wisma yang mempekerjakannya bersama tiga orang temannya itu menurun drastis. Jika sebelumnya dalam semalam hampir pernah mencapai 100 orang tamu, akhir-akhir ini, Solikin mengaku sulit mencari 15 orang dalam semalam. 

“Mami pemilik wisma memang sering ngomel, tapi gimana lagi wong memang sepi pengunjung,” pungkasnya.

(Kompas)

Loading...
  • Whatsapp

Pos terkait