Menjelang Eksekusi Mati

  • Whatsapp
Ilustrasi Eksekusi Mati Foto: liputan6.com
Ilustrasi Eksekusi Mati Foto: liputan6.com
Ilustrasi Eksekusi Mati Foto: liputan6.com

6 orang terpidana kasus pengedaran dan penyelundupan narkotika yang divonis hukuman mati akan dieksekusi pada hari Minggu (18/1) pukul 00.00 WIB. 5 orang terpidana akan dieksekusi di Pulau Nusa Kambangan, Cilacap dan satu orang lainnya akan dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah karena alasan psikologi. Eksekusi mati ini memiliki kekuatan hukum tetap karena Presiden Jokowi menolak grasi terhadap keenam terpidana. Pengumuman eksekusi ini disampaikan oleh Jaksa Agung HM. Prasetyo pada hari Kamis (15/1) sore.

“Kami tidak main-main dalam penegakan hukum narkotika, tidak ada ampun bagi para pengedar narkotika,” tegas Prasetyo di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta.

Bacaan Lainnya

Kejaksaan Agung menyiapkan 84 orang penembak jitu yang berasal dari satuan Brimob Polda Jawa Tengah untuk melaksanakan eksekusi tersebut. 70 orang penempak akan ditempatkan di Nusakambangan dan 14 orang penembak di Boyolali. Akan tetapi, eksekutornya tetap dari Kejaksaan Agung. Sedangkan teknis eksekusi tergantung permintaan terpidana sendiri, namun eksekusi tetap dilakukan secara bersamaan.

Para terpidana sudah diberitahu pada tanggal 14 Januari 2015 lalu untuk menyiapkan mental dan permintaan terakhir mereka.

“Tanggal 14 Januari kemarin para terpidana mati sudah diberi tahu sesuai perundangannya, bahwa 3 hari sebelum eksekusi sudah diberi tahu untuk menyiapkan mental dan permintaan terakhir,” jelas Prasetyo.

Oleh karena itu, menjelang eksekusi para terpidana dikunjungi oleh keluarga bahkan Duta Besar bagi WNA. Sebagaimana yang diketahui bahwa 4 orang terpidana merupakan WNA dari berbagai negara. Bahkan keluarga WNA tersebut juga diperbolehkan hadir saat eksekusi jika diizinkan oleh Dubes negaranya. Selain itu, para terpidana juga didampingi oleh rohaniawan masing-masing agamanya untuk mempersiapkan mental mereka.

Seperti KH. Hasan Makarim pendamping terpidana yang beragama Islam, Rani Andiani alias Melissa Aprilia dan Namaona Denis, yang berencana agar memakaikan pakaian putih-putih bagi kedua terpidana tersebut saat eksekusi. Selain itu, sebelum eksekusi mereka akan diajak shalat taubat serta diberi wangi-wangian agar bersih dan suci saat menjalani eksekusi.

Sedangkan untuk permintaan terakhir, Rani Andiani alias Melissa Aprilia yang merupakan WNI ingin dimakamkan di samping makam ibunya di Cianjur. Selain itu, Rani yang saat ini sedang menjalani puasa 40 hari juga memiliki satu lagi permintaan terakhir yang akan disampaikannya sebelum eksekusi.

Keinginan terakhir pun juga dimiliki Tran Thi Bich Hanh yang biasa dipanggil Asien warga negara Vietnam. Terpidana yang akan dieksekusi di Boyolali ini belum pernah bertemu keluarganya sejak divonis hukuman mati, namun ia tetap menjaga komunikasi dengan keluarganya. Ia pun juga mengaku memiliki keinginan terakhir yang akan disampaikannya sebelum eksekusi.

Tidak hanya terpidana yang perlu dipersiapkan fisik dan mentalnya. Para eksekutor pun juga perlu dipersiapkan fisik maupun mentalnya karena kemungkinan mereka akan mengalami tekanan kejiwaan sebelum dan setelah mengeksekusi mati para terpidana.

Pengumuman eksekusi mati juga mendapat tanggapan dari masyarakat. Seperti Jeni Noviana yang merupakan pasien Ang Kim Soei salah satu terpidana mati. Jeni sangat bersimpati terhadap eksekusi yang akan dijalani Mr. Kim dan berharap keputusan tersebut masih dapat diubah.
“Kami prihatin sekali, sangat sedih ketika mendengar Mr. Kim akan dieksekusi. Harapan kami kalau bisa diubah menjadi seumur hidup, jangan hukuman mati,” ucap Jeni yang sudah 5 tahun mengikuti pengobatan Mr. Kim saat hendak menjenguk Mr. Kim di Nusakambangan.

Ang Kim Soei yang biasa dipanggil Mr. Kim memang dikenal dengan pengobatan herbal gratisnya yang manjur. Bahkan terpidana kasus kepemilikan dua pabrik ekstasi ini menghabiskan waktu menjelang isolasinya dengan mengobati orang-orang kurang mampu.

Eksekusi mati ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dimana hukuman mati dijatuhkan kepada produsen dan pengedar narkoba serta tindak pidana korupsi.

Berikut ini adalah nama keenam terpidana mati tersebut:

  1. Namaona Denis (48), WN Malawi. Diputus Pengadilan Negeri (PN) pada tahun 2001. Grasi ditolak pada 20 Desember 2014.
  2. Marco Archer Cardoso Moreira (53), WN Brasil. Diputus PN pada 2004.
  3. Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (38), WN Nigeria. Diputus PN pada 2004. Grasi ditolak pada 30 Desember 2014.
  4. Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya (52), WNI, lahir di Fak-fak, Papua. Grasinya ditolak 30 Desember 2014. Kasus kepemilikan dua pabrik ekstasi.
  5. Tran Thi Bich Hanh (37), WN Vietnam. Tidak mengajukan kasasi dan permohonan grasinya ditolak pada 30 Desember 2014. Terlibat penyelundupan 1,1 kilogram heroin jenis sabu-sabu di Bandara Adi Soemarmo.
  6. Rani Andriani alias Melisa Aprilia, WNI asal Cianjur, Jawa Barat. Diputus PN pada tahun 2000. Grasi ditolak 30 Desember 2014. Terpidana kasus penyelundupan heroin seberat 3,5 kilogram.
Loading...

Pos terkait