Mengenal Leuit, Simbol Ketahanan Pangan Publik Adat Sinar Resmi Sukabumi

Mengenal Leuit, Simbol Ketahanan Pangan Publik Adat Sinar Resmi Sukabumi

Jakarta – Warga adat pada Desa Sinar Rasa, Kecamatan Cikakak, Wilayah Sukabumi, Jawa Barat punya tradisi unik untuk menangkal kekurangan komponen pokok bila terjadi krisis pangan. Salah satu tradisi kuno yang digunakan masih dipertahankan di area wilayah Kasepuhan Sinar Resmi ini adalah keberadaan leuit atau lumbung padi. Leuit berbentuk seperti pondok kecil juga diberi atap dari daun sago kirai (sejenis palem) yang digunakan dianyam. 

Ukuran leuit bervariasi, tergantung keperluan pemilik rumah lalu ketersediaan padi yang dimaksud merekan miliki. Leuit biasanya mampu menampung 500 hingga 1000 ikat padi. Berdasarkan informasi yang tersebut didapat, padi yang dimaksud disimpan pada leuit bisa saja tahan hingga 5 tahun.

Juru Bahasa Keolotan (kampung), Karma, menyatakan keberadaan leuit dalam Desa Sinar Rasa sangat penting dan juga dijadikan sebagai tradisi turun temurun. Leuit adalah simbol ketahanan pangan Kasepuhan Adat Banten Kidul (KBAK), satu ikat padi yang dimaksud disimpan di leuit setara dengan lima kilogram beras.

Leuit ini jadi simbol ketahanan pangan, tujuannya untuk mengatasi kelaparan bila nanti terjadi krisis pangan atau kekeringan serta sebagainya. Jadi publik masih punya cadangan padi untuk diolah,” kata Karma pada waktu ditemui Tempo di dalam Desa Sinar Resmi, Hari Jumat 19 Januari 2024.

Karma menyampaikan, padi yang tersebut berada pada dalam leuit tidak boleh dijual, adat KBAK melarang hal tersebut, supaya bukan ada penduduk yang digunakan berdampak pada kelaparan dalam kemudian hari. “Tapi beras boleh dijual, kalau padi tidak. Kalau mau dijual, maka padi harus diolah dulu menjadi beras,” kata Karma.Leuit atau lumbung padi menjadi simbol ketahanan pangan rakyat adat Desa Sinar Rasa, Kecamatan Cikakak, Kota Sukabumi, Jawa Barat. TEMPO/Alif Ilham Fajriadi

Salah satu keberadaan leuit yang dirasakan masyarakat, menurut Karma, ketika terjadi krisis moneter masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada pada waktu itu penduduk Desa Sinar Rasa tidaklah terdampak krisis moneter akibat permintaan pangan terpenuhi.

“Dengan adanya leuit ini, bukan ada dirasakan krisis moneter atau apapun itu, kami di area di lokasi ini masih bisa saja makan lalu tidaklah kesulitan pangan. Tradisi ini penting dipertahankan,” ujar Karma.

Di sisi lain, Karma menyampaikan ada kekurangan leuit. Padi yang dimaksud disimpan pada leuit pada waktu yang mana lama bahkan bertahun-tahun akan mengalami penurunan pada segi rasanya. Karma mengatakan beras yang dihasilkan dari padi pada leuit tiada putih kemudian cenderung kuning. Rasanya pun agak hambar.

“Tapi kembali lagi ke fungsi awalnya, leuit ini sebagai tempat penyimpanan stok padi, bila nanti terjadi krisis pangan sanggup dimanfaatkan. Jadi, walau rasa nasi yang dihasilkan agak kurang, namanya di tempat masa krisis ya harus dimakan juga nantinya,” ucap Karma.

Konon, kata Karma, padi di leuit bisa jadi tahan hingga 10 tahun bila tiada memakai komponen kimia. Namun, ketika ini seluruh proses bertani di area Desa Sinar Rasa sudah ada pakai pupuk kimia. Sehingga, menurut dia, belaka bisa saja tahan hingga lima tahun saja.

“Cerita dari orang tua dulu, padi di tempat leuit sanggup tahan sampai 10 tahun. Paling berubah rasanya saja, tapi masih mampu untuk dimakan. Kalau pada waktu ini menurut saya hanya saja mampu sampai lima tahun cuma soalnya kan pakai kimia,” ucap Karma.

Karma berharap tradisi menyimpan padi di dalam di leuit masih dapat dilanjutkan dari masa ke masa di area Desa Sinar Rasa. Menurut dia, metode ini sangat penting bila seandainya kondisi pangan dalam Indonesia nantinya sedang buruk. “Lebih baik mengurangi lebih banyak dulu, daripada nanti kita kesulitan akibat kelaparan,” kata Karma.

Pos terkait