LPA Sumbar Bakal Fasilitasi Pelaksanaan UN Korban Pemerkosaan di 50 Kota

  • Whatsapp
Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan Indonesia didampingi Lembaga Perlindungan Anak Sumbar memperlihatkan sejumlah temuan kejanggalan terhadap kasus pemerkosaan siswi Mts di Kenagarian Guguak, Kabupaten 50 Kota.
Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan Indonesia didampingi Lembaga Perlindungan Anak Sumbar memperlihatkan sejumlah temuan kejanggalan terhadap kasus pemerkosaan siswi Mts di Kenagarian Guguak, Kabupaten 50 Kota.
Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan Indonesia didampingi Lembaga Perlindungan Anak Sumbar memperlihatkan sejumlah temuan kejanggalan terhadap kasus pemerkosaan siswi Mts di Kenagarian Guguak, Kabupaten 50 Kota.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumatera Barat berjanji akan memfasilitasi keikutsertaan korban pemerkosaan berinisial NPD (14) untuk melaksanakan Ujian Nasional (UN). Diketahui, korban merupakan seorang siswi yang saat ini duduk di bangku kelas 3 pada salah satu Mts di Kenagarian Guguak, Kabupaten 50 Kota.

“Memang kejiwaannya sekarang masih dalam trauma berat, namun kami berupaya bagaiman mestinya korban tetap dapat melaksanakan UN pada 5 Mei mendatang,” kata relawan LPA Sumbar, Nora Fitri di Padang, Senin (21/4).

Bacaan Lainnya

Pihaknya juga mengaku telah meminta kepada Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar agar korban tetap bisa melaksanakan UN. Namun, ia menyebut, apabila hingga saat hari pelaksanaan UN kejiwaan korban masing terganggu, pihaknya juga akan tetap memfasilitasinya untuk mengikuti UN susulan.

“Kalau memang belum sanggup korban melaksanakan UN, karena nantinya faktor terpaksa, kami juga akan berkoordinasi dan meminta kepada Kemenag agar korban dapat melaksanakan UN susulan,” jelasnya.

Dalam pelaksanannya nantinya, LPA Sumbar juga akan meminta pihak Kemenag maupun sekolah untuk dapat memberikan perlakukan khusus terhadap korban. “Ya, kalau bisa korban mungkin UN-nya di rumah atau tempat yang tidak banyak orang asing. Pastinya tidak melanggar aturan pelaksanaan UN,” tuturnya.

Selain itu, ia menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan medis korban dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Achmad Darwis Suliki, Kabupaten 50 Kota terlihat bahwa korban menderita trauma berat.

“Korban itu tidak gila atau waras, tetapi lebih kepada menderita trauma berat akibat kejadian yang menimpanya tersebut,” katanya.

Pihaknya juga berjanji bersama badan lainnya akan melakukan pendampingan dan pengusutan tuntas terhadap kasus yang menimpa korban tersebut. “Kita akan dampingi korban terus sampai tuntas,” tegasnya.

Loading...

Pos terkait