Lexipal, Aplikasi Anak Disleksia Buatan Mahasiswa UGM

  • Whatsapp
Ilustrasi Penderita Disleksia. Foto : kaskus.co.id
Ilustrasi Penderita Disleksia. Foto : kaskus.co.id
Ilustrasi Penderita Disleksia. Foto : kaskus.co.id

Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana merilis aplikasi media belajar untuk anak-anak penderita gangguan disleksia pada 20 Desember 2014. LexiPal, nama aplikasi itu, merupakan garapan empat mahasiswa UGM yang baru setahun belakangan membentuk perusahaan digital perintis (startup) NextIn Indonesia.

Vina Sectiana, salah satu perancang LexiPal, mengatakan timnya merombak total aplikasi LexiPal. Menurut Vina pembuatan aplikasi LexiPal setahun lalu baru didasarkan pada pengetahuan timnya mengenai gangguan disleksia yang pas-pasan.

Bacaan Lainnya

Mereka kemudian bekerjasama dengan Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) untuk menyempurnakan konten LexiPal. “Kami menemukan banyak kekurangan, penggarapan LexiPal seperti mulai dari awal lagi,” kata mahasiswi semester tujuh Jurusan Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, UGM kepada Tempo pada Jumat, 5 Desember 2014.

Vina mencontohkan, pada aplikasi generasi pertama, LexiPal hanya memuat lima model media belajar anak disleksia. Aplikasi itu terlalu sederhana karena hanya memuat konten pengenalan tulisan untuk anak disleksia. Menurut Vina, berdasar analisis para ahli di Asosiasi Disleksia Indonesia, konsep media belajar seperti itu tidak tepat.

Makanya, menurut Vina, LexiPal generasi baru punya konten berbeda dari produk awal. Isinya saat ini memuat 78 macam model permainan untuk pembelajaran anak-anak disleksia. “Terbagi dalam 12 kategori,” kata Vina.

Aplikasi tersebut memuat konten mengenai pengenalan pada bentuk atau pola, persamaan dan perbedaan, serta ingatan jangka pendek. Selain itu, ada pembelajaran mengenali asosiasi terhadap objek, persepsi arah, urutan aktivitas, pemahaman tempat hingga konsep waktu. Aspek ketrampilan relasi dan komunikasi sosial, pengenalan pada huruf, suku kata serta kalimat juga ada di aplikasi LexiPal.

Contohnya, ada kategori yang memuat media permainan untuk mengajarkan anak disleksia ke pengenalan pada bentuk garis atau pola warna. Di kategori lain, anak diajak bermain petualangan dengan melewati jalan yang bentuknya menggambarkan huruf.

Ada juga kategori yang berfungsi membiasakan anak disleksia mengenali huruf-huruf yang mereka lihat secara terbalik. Misalnya, yang sering terjadi, huruf “b” dibaca anak disleksia sebagai “q”. Metodenya dengan membiasakan anak-anak disleksia menyiasati kekurangannya dalam melihat pola-pola bentuk huruf dan angka.

Media belajar lainnya di LexiPal juga menuntun anak disleksia mengenali ekspresi orang umum, seperti marah, senang atau takut. Konten untuk membantu anak-anak tersebut memahami model komunikasi sosial sesuai etika umum juga ada. “Kami rancang untuk kebutuhan anak disleksia yang beragam, dari paling ringan sampai yang advance,” kata Vina.

Dia menambahkan aplikasi itu cocok untuk membantu anak-anak dengan gangguan disleksia di usia pra sekolah hingga awal SD. Aplikasi ini juga efektif membantu anak-anak biasa lebih cepat belajar membaca. “Tapi, untuk penggunaanya, anak perlu didampingi guru atau orang tua,” kata dia.

Sayangnya, Aplikasi itu baru tersedia untuk media dekstop. Vina mengatakan timnya memang berencana mengembangkannya untuk platform android. Dia optimistis kebutuhan pada aplikasi seperti ini tinggi karena ada perkiraan angka kasus disleksia di Indonesia mencapai 10 persen dari populasi. Aplikasi ini sempat diujicoba ke 40 anak pemilik gangguan disleksia.

(tempo.co)

Loading...

Pos terkait