Kopi Darat FAM Surabaya ?

  • Whatsapp
‘Kopi darat’ FAM Cabang Surabaya di Surabaya. FOTO/IST
‘Kopi darat’ FAM Cabang Surabaya di Surabaya. FOTO/IST
‘Kopi darat’ FAM Cabang Surabaya di Surabaya. FOTO/IST

Surabaya masih basah ketika Ahad (27/4), pagi, jalanan di kota itu dibasuh gerimis. Debu kota luruh. Tapi sepagi itu, kendaraan telah ramai berlalu-lalang. Kehidupan menggeliat di Kota Pahlawan yang tak pernah sepi membangun mimpi.

Di Balai RW Wisma Kedung Asem Indah, ada sesuatu yang berbeda dari hari-hari biasa. Bukan sebab ada acara kelurahan atau helat kegiatan warga lainnya, tetapi di sana berkumpul sejumlah anak muda pecinta tulis-menulis yang datang dari daerah-daerah sekitarnya. Mereka adalah aktivis literasi FAM Cabang Surabaya.

Hari itu, adalah pertemuan rutin pengurus dan anggota FAM Surabaya dengan tajuk “Kopi Darat ke-18”. Ya, sudah 18 kali mereka berkumpul, berbagi cerita, berdiskusi tentang literasi, dan menggelar sejumlah kegiatan kepenulisan.

‘Kumpul-kumpul’ itu, membuat silaturahim di antara mereka semakin erat, dibalut suasana kekeluargaan, dan sepulang dari kegiatan mereka berproses melahirkan berbagai karya yang menghiasi halaman media massa. Kata ‘Aktif” menjadi dorongan mereka untuk terus berkarya, sampai kapan pun.

“Hari itu kami duduk lesehan saja, berbagi cerita dan motivasi,” kata Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya, Selasa (29/4).

Dia menyebutkan, beberapa pengurus dan anggota FAM Surabaya yang hadir di acara itu, di antaranya; Evie Suryani, Rusli Akhmad Junaedi, Ken Hanggara, Ryan P. Putra, Handoko Ndog, Hanum Anggraini Azkawati, Rizka Andarosita, Yuningsih, Andini W, Khanis Selasih, Zidane Falah, dan Brigitta Ajeng. Mereka adalah penulis-penulis muda. Disebut muda karena mayoritas mereka adalah pelajar dan mahasiswa.

Menurut Yudha, pertemuan itu juga masih dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April lalu. Maka, di hari itu, perbincangan mereka hanya seputar buku. Buku-buku karya anggota pun didiskusikan, sementara para penulisnya berbagi kiat menulis serta menceritakan proses kreatif lahirnya buku.

Kiat-kiat menulis diberikan Ken Hanggara (penulis buku puisi ‘Dermaga Batu’), Hanum Anggraini (penulis novel ‘Permadani Kehidupan’), dan Khanis Selasih (penulis buku puisi ‘Cinta Sederhana’). Ketiganya sepakat bahwa jangan pernah menyerah menghasilkan karya meski selalu ada godaan untuk berhenti menulis.

“Bukalah hati dan pikiran karena ide akan muncul dari mana saja dan kapan saja,” ujar Ken Hanggara yang mengaku menemukan ide menulis buku puisi ‘Dermaga Batu’ ketika ia berekreasi ke Pantai Sanur.

Begitu juga, kata Hanum Anggraini dan Khanis Selasih, fokus menulis itu penting. Dengan fokus ide tulisan dapat dikembangkan dan dituntaskan. Fokus dan serius adalah kunci sukses dalam tulis-menulis.

Selain memberikan motivasi agar penulis pemula jangan berpuas diri dengan karya antologi (keroyokan) lalu mengalami stagnasi berkarya, pertemuan itu juga menyerukan pesan penting bahwa seorang penulis jangan terbebani dengan predikat apa pun.

“Tugas penulis adalah menulis. Terus lakukan itu,” kata Yudha Prima.

(Release FAM Indonesia)
Loading...
  • Whatsapp

Pos terkait