Ketua Partai Nasional Aceh Tewas Dianiaya

Warga melaksanakan shalat fardhu kifayah terhadap M Juwaini Ketua Dewan Pimpinan Kecamatan Partai Nasional Aceh (PNA) Kuta Makmur Aceh Utara di Desa Ceumeucet, Kamis (6/2/2014) FOTO/Serambi Indonesia
Warga melaksanakan shalat fardhu kifayah terhadap M Juwaini Ketua Dewan Pimpinan Kecamatan Partai Nasional Aceh (PNA) Kuta Makmur Aceh Utara di Desa Ceumeucet, Kamis (6/2/2014) FOTO/Serambi Indonesia
Warga melaksanakan shalat fardhu kifayah terhadap M Juwaini Ketua Dewan Pimpinan Kecamatan Partai Nasional Aceh (PNA) Kuta Makmur Aceh Utara di Desa Ceumeucet, Kamis (6/2/2014) FOTO/Serambi Indonesia

Juwaini (35), Ketua Dewan Pimpinan Kecamatan Partai Nasional Aceh (DPK PNA) Kutamakmur, Aceh Utara, tewas setelah dianiaya dua pria bersepeda motor di kawasan Desa Lam Kuta, kecamatan setempat, Kamis (6/2/2013) sekitar pukul 01.30 WIB.

Kedua pelaku disebut-sebut kader partai lokal di kawasan itu, namun pihak partai menduga pelakunya justru simpatisan, bukan kader mereka.

Baca Juga

Pihak keluarga baru mengetahui korban sudah tak lagi bernyawa ketika tiba di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara di Kota Lhokseumawe pukul 05.00 WIB. Lalu jasad korban dibawa ke RSU Cut Meutia Aceh Utara untuk divisum.

Usai divisum, jenazah korban dibawa ke rumah istri pertamanya di Desa Ceumeucet, Kecamatan Kutamakmur. PantauanSerambi (Tribunnews.com Network) kemarin, puluhan warga termasuk sejumlah pengurus PNA, memadati rumah duka.

Ketua DPW PNA Aceh Utara, Misbahul Munir yang dikonfirmasi Serambi di rumah duka menyebutkan, kasus tewasnya Juwaini berawal ketika ayah enam anak itu hendak pulang dari warung kopi yang tak jauh dari rumah istri keduanya di Desa Lam Kuta.

Tiba-tiba ke warung itu datang dua pria mengendarai sepeda motor jenis RX King dan langsung memintanya untuk berdiri. Saat itu Juwaini sedang duduk dengan temannya, Bakhtiar. Tapi begitu Juwaini diperintah berdiri, Bakhtiar langsung lari. Tinggallah Juwaini sendirian bersama pemilik warung.

“Dari jauh Bakhtiar menyaksikan dua pria yang naik sepeda motor itu memukul Juwaini. Mereka juga sempat adu mulut. Tapi Bakhtiar tidak tahu pasti apa yang mereka sampaikan. Yang jelas, pelakunya preman piaraan Partai Aceh. Bakhtiar dan saya kenal pelakunya,” ungkap Misbahul Munir.

Masih menurut Misbahul, karena tak tahan lagi dikeroyok, korban akhirnya lari dan menghubungi dirinya via handphone sekitar pukul 02.30 WIB. Korban minta diantar ke rumah sakit.

“Tapi pada malam kejadian jaringan HP terganggu, sehingga baru sekitar pukul 03.00 WIB korban baru bisa saya bawa ke Rumah Sakit PMI Lhokseumawe. Namun setiba di rumah sakit korban mengembuskan napas terakhir,” kata Misbahul.

Sempat melihat tubuh korban, Misbahul menyatakan di tubuh dan kepala korban terdapat luka gores. Lalu jasad korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara untuk divisum. Setelah itu baru dibawa pulang ke rumah duka untuk dikebumikan.

Ia menduga, kasus seperti itu terjadi lagi karena kasus-kasus yang menimpa kader PNA selama ini tidak diusut tuntas.

“Sudah banyak kasus yang kita lapor ke polisi, tapi tak ada yang terungkap. Jika ini terus dibiarkan oleh aparat penegak hukum, maka akan berdampak buruk nantinya terhadap keamanan daerah menjelang pemilu,” katanya.

Misbahul mendesak supaya polisi mengusut tuntas kasus ini supaya tak terulang lagi ke depan, apalagi polisi sudah mengetahui nama kedua pelaku.

“Sudah cukuplah satu korban, kita berharap polisi tidak tinggal diam lagi,” ujar Misbahul berharap.

Sampai jenazah korban dikebumikan kemarin siang, belum jelas apa sebab dua pria bersepeda motor itu mendatangani Juwaini di warung kopi, menyuruhnya berdiri, kemudian memukulnya. Sebuah sumber menduga, kasus itu ada kaitan dengan diturunkannya bendera PA di kawasan itu beberapa jam sebelumnya.

Loading...

Rekomendasi

DomaiNesia