Kemandirian Kelompok Tani Wanita Sehati

  • Whatsapp

tt

FEATURE – Kemandirian ternyata tidak terlepas dari keyakinan dan kesungguh-sungguhan. Hal ini yang dibuktikan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Sehati  bagian kewanitaan dari Kelompok Tani Sehati yang berdiri pada tahun 2009. Kelompok tani ini berada di Kampung Limpatu Jorong Guguak Nagari Alahan Mati Kecamatan Simpang Kabupaten Pasaman. Kemandirian tersebut diwujudkan mulai dari proses tanam bahan pangan lokal hingga pengolahan hasil tani menjadi produk kuliner pangan lokal, secara berdikari.

Bacaan Lainnya

Kerja sama serta pendidikan partisipatif melalui proses pendampingan yang dilakukan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Reni Hasnayetti, SP terhadap kelompok tani akhirnya membuahkan hasil. Reni mengatakan, hasil pangan lokal yang dihasilkan oleh kelompok wanita tani tersebut berupa olahan dari umbi-umbian, kakao, yang sudah di jadikan olahan berupa Setik Ubi Ungu, Bubuk Coklat, disamping itu juga KWT Sehati juga membuat kompos dll. Kemudian juga ada pendidikan guna meningkatkan pemahaman tentang pemanfaatan pekarang untuk di tanami sayur-mayur agar bisa mengurangi belanja keluaga, tambah Reni.

Nona Marlina, sekretaris kelompok wanita tani Sehati, mengatakan selain membuat olahan pangan lokal dia dan anggota juga mengikuti pendidikan Tata Boga yang di adakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPMM) dan membuat catering supaya anggotanya yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga bisa mendapat penghasilan tambahan, jadi bukan hanya berkelompok tetapi bisa menambah pendapatan keluarga Nona-katanya.

Kendala yang di hadapi kelompok wanita tani ini terkait dengan teknik pemasaran serta ekspansi pasar yang lebih luas. Karena, selama ini hasil olahan hanya dipasarkan disekitar kecamatan. Keterbatasan peluang pemasaran membuat pengurus dan anggota KWT Sehati mengolah pangan lokal hanya seminggu dua kali dan itu pun melihat kebutuhan para pembelinya.

Kelompok wanita ini yang beranggotakan 22 orang ini pada tahun 2009 ini belum mengajukan bantuan kepada pemerintah khusunya pemerintah daerah, terbentuknya kelompok wanita tani (KWT) Sehati ini bukan karena bantuan melainkan membangun kemandirian bagi para kaum ibu-ibu bisa mendapatkan penghasilan tambahan keluarga. Ketua kelompok wanita tani Deni Eliya mengatakan, sekiranya pemerintah membatu dalam hal pengolahan pangan lokal ini berupa alat-alat mesin pengolahan karena selama ini para kelompok wanita tani ini hanya menggunakan cara tradisional/manual apabila ada pesanan yang lebih banyak tidak sanggup memenuhinya karena keterbatasannya tenaga bagi para anggotanya.

Pada bulan ini (Agustus, 2013) kelompok wanita mengirim olahan pangan lokal kepada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPMM) yang di pamerkan dalam rangka pameran hasil olahan pangan lokal sekabupaten Pasaman di Kabupaten Agam yang di adakan oleh Pemerintah Propinsi Sumatra Barat, dari hasil yang di jadikan pameran antara lain Setik Ubi Ungu, Bubuk Coklat, Mikroba Dua, dan Kompos. Dari hasil olahan pangan lokal serta hasil kebun sayur-sayauran sudah banyak dimanfaatkan, terutama dari kebunnya yang sekerang sudah panen dan panennya seminggu tiga kali dalam satu minggu kacang panjang  20 ikat dengan harga jual 1000/ikat sedangkan terong menhasilkan 10 kg/ minggu dengan harga 4000/kg, jadi dalam satu minggu pendapatan kelompok untuk tanaman kacang panjang dan terong Rp. 60.000,-/ minggu, belum lagi tanaman yang lain seperti ubi ungu, singkong setra tanaman pekarangan.

Semoga produk-produk olahan pangan lokal ini dapat dipasarkan lebih luas lagi. Selain itu, kami juga memerlukan pendidikan-pendidikan dari pemerintah daerah terutama dari Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP), imbuh Deni.

Afiliasi : EkspresNews

Loading...

Pos terkait