Kami Bukan Bangsa Yang Baru Lahir Bung !

INDONESIA“We could learn a lot from crayons: some are sharp, some are pretty, some are dull, some have weird names, and all are different colors. But they all have to learn to live in the same box”

– Anonim-

Bacaan Lainnya

Akhir tahun lalu,saya berkesempatan bertemu dengan seluruh pelajar terbaik dan kreatif se-Indonesia.Bukan untuk ajang liburan ke Jakarta,melainkan karena kesamaan di antara kami,yakni kepedulian dan keinginan akan terciptanya Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar.Selama lima hari,kami dikumpulkan untuk mendapatkan pembekalan materi untuk bisa mewujudkan mimpi kami yaitu Indonesia akan jaya di masa depan.

Terlepas dari semua itu,pertemuan dengan berbagai sahabat-sahabat dari berbagai daerah seperti:Balikpapan,Makasar,NTT,Samarinda,Bungku Barat,Samarinda,Palembang,Medan,secara tak sengaja mereka membuka mata saya bahwa Indonesia itu kaya akan budaya,potensi-potensi daerah yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar.

Tak seperti di buku RPUL, kali itu saya melihatnya secara nyata. Sebuah diversitas bangsa yang terbagi-bagi atas suku dan ras, dengan perbedaan bahasa, logat, pakaian, bahkan cara tersenyum yang seolah-olah membuka mata saya tentang Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia yang berbeda.

Devide et Impera

Berbicara diversitas, kita berbicara budaya. Budaya bisa dikatakan sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan hal yang sangat kompleks, abstrak, dan luas karena mengandung berbagai sistem dan nilai yang telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan sebagai logika tentang mana yang benar (terpuji) dan salah (tercela). Karena kemampuan manusia untuk beradaptasi sangat tinggi—dibuktikan dengan mampunya kita menghindari kepunahan, setidaknya hingga detik ini—maka perkenalan manusia dengan budaya di sekelilingnya sudah sewajarnya terjadi semenjak usia dini. Anak-anak. Mereka mengenal dan dikenalkan oleh keluarganya tentang bagaimana pola hidup serta hal-hal yang dianggap lumrah untuk dilakukan dalam budaya mereka.

Misalnya ada teman saya,ia lahir di tengah keluarga campuran Batak dan Jawa—harus mengikuti prosesi tedhak sinten (turun tanah) di umur dua tahun, yang merupakan salah satu ritual selametan ala Jawa ketika seorang balita mulai bisa berjalan. Namun, di saat yang bersamaan, dia juga mengenal sebutan amang, inang, opung, tulang, namboru, yang merupakan panggilan untuk anggota keluarga dalam bahasa Batak.

Maka, kondisi yang paling baik dalam pentransferan nilai dan norma budaya kepada pihak lain adalah ketika sang subjek penerima masih kecil. Di mana mereka belum menerima terlalu banyak input yang mampu melawan setiap doktrin-doktrin dari lingkungan sekitar. Dan apa yang mereka dapat itulah yang kemudian menjadi landasan pola pikir mereka.Akan terus berlanjut hingga menginjak kedewasaan.

Sehingga bukanlah sesuatu yang patut diragukan jika dikatakan bahwa anak-anak merupakan penerus budaya bangsa, karena dari masa itulah mereka mulai menerima input budaya secara efektif. Anak-anak senang menyerap apa yang mereka terima. Semakin bertambahnya usia, maka penerimaan tersebut akan semakin sulit, dan cenderung kurang berhasil. Jadi begitulah siklus pewarisan nilai dan norma budaya. Kita patut bersyukur karena dalam budaya kita—baik yang tinggal di ujung Aceh hingga pelosok Papua—anak-anak selalu dilibatkan dalam kehidupan berbudaya, apapun bentuknya itu.

Tetapi, apakah kita—sebagai generasi yang hidup di zaman yang selalu berubah ini—masih harus mempertahankan nilai-nilai yang bertentangan dengan kemanusiaan? Kita mungkin telah dibentuk sedemikian rupa, dengan budaya yang kita miliki masing-masing sehingga terbentuk pula nilai-nilai logika yang menjadi prinsip hidup kita. Tetapi ada kalanya kita perlu menyadari, bahwa tidak semua yang kita peroleh dengan embel-embel tradisi itu patut diterapkan.

Semua hal mempunyai sisi negatif dan positifnya masing-masing. Begitu juga budaya. Ada hal-hal positif yang memang patut diwariskan kepada generasi penerus karena merupakan akar kepribadian yang mencerminkan kita sebagai bangsa beradab, manusiawi, berkesenian, dan berpendirian teguh. Kita mempunyai masa lalu yang kelam sebagai negara jajahan selama tiga abad lebih, dan tentu prinsip-prinsip yang kuat perlu ditanamkan kepada anak-anak penerus bangsa agar hal itu tidak terulang lagi.

Tetapi apakah kita sudah mampu memaknai budaya itu sendiri bagi kehidupan kita? Saya rasa tidak demikian. Buktinya, budaya negatif ternyata masih saja tetap diturunkan oleh orang tua dengan tanpa rasa bersalah kepada anak-anaknya. Memang tidak semuanya begitu, saya katakan, tetapi sekecil apapun porsi yang diwariskan, maka itu akan tetap mengakar kuat di bangsa kita sampai kapanpun.

Kembali ke masa penjajahan di Nusantara ratusan tahun lalu. Ketika itu Belanda melancarkan praktik devide et impera yang merupakan gabungan dari sistem politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan untuk memecah-belah berbagai suku yang ada di Nusantara dengan cara adu domba. Hal tersebut cukup sukses. Melihat kondisi Nusantara yang terdiri dari kepulauan, Belanda melihat banyaknya perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing wilayah, dan dari situ mereka melihat kesempatan untuk memanfaatkannya sebagai senjata penghancur. Yang perlu mereka lakukan hanya memanaskan ujung sumbu, dan biarlah api merambat dengan sendirinya.

Lihatlah apa yang terjadi saat ini! Meski Nusantara telah mengalami asam-basa perjuangan sebuah bangsa, berubah kian-kemari dari Republik Indonesia, lalu Republik Indonesia Serikat, dan kembali lagi menjadi negara kesatuan, ada satu masalah yang tak kunjung usai—dan semakin parah karena pola pikir tradisional kini dihadapkan pada pola pikir modern yang menciptakan berbagai kontradiksi. Sehingga terkadang kita sulit menentukan mana yang benar dan salah. Lalu muncul opsi lain sebagai kegagapan kita mengadaptasi dunia: agak benar dan agak salah.

Sinetron dan Komedi Slapstick

Kemampuan bertoleransi, hal yang seharusnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi mengingat bukan bangsa yang baru lahir,Indonesia hidup dengan ratusan suku dan etnis, tetapi sudah berabad-abad lamanya. Tetapi toleransi bangsa Indonesia—saya katakan—seakan semu.

Sekilas, cacatnya toleransi terasa kurang nyata. Bagai gunung es yang masih terselubung di bawah permukaan laut, menunggu laut surut untuk menampakan taring tajamnya. Hal ini sangat dirasakan oleh mereka yang ”diminoritaskan” oleh kaum yang merasa dirinya mayoritas. Mengapa saya menyebut ”diminoritaskan”? Kondisi ini sama saja dengan orang-orang yang ”dimiskinkan” pada era 1998. Hadirnya mereka sebagai kaum yang dipojokkan, dianggap minoritas, merupakan suatu kesengajaan—hasil sistem budaya yang diterapkan masyarakat saat ini.

Pembedaan. Ya. Itulah yang kemudian terjadi ketika perbedaan—yang memang sewajarnya hadir di tengah-tengah kita sebagai bangsa plural—dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima dan dianggap hanya akan mengganggu kelancaran sistem budaya. Korban budaya.

Diskriminasi terhadap umat beragama terterntu, misalnya. Hanya karena mereka menganut aliran yang terdengar asing di telinga kita, lantas kita berkoar-koar menuduhnya aliran sesat, dan melakukan pemberantasan layaknya mengusir penyihir. Apakah hanya karena mereka tidak menganut kepercayaan yang diizinkan oleh pemerintah maka mereka harus diperlakukan seperti itu?

Diskriminasi terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual). Apakah hanya karena mereka memiliki orientasi seksual dan penampilan yang berbeda, membuat orang-orang sekitar—yang mencap diri mereka normal—merasa jijik dan pantas untuk melakukan kekerasan terhadap mereka? Seolah-olah mereka adalah sampah masyarakat, bentuk kegagalan dari sebuah sistem peradaban. Dan yang lebih parah lagi, ”kaum normal” menggunakan panji-panji agama sebagai dalil atas tindakan tersebut.

Diskriminasi terhadap etnis atau ras tertentu. Etnis yang dianggap menyandang stereotype negatif bahwa mereka merupakan benih-benih separatisme, berpendidikan rendah dan terbelakang, berperilaku sadis. Atas dasar apa sebuah stereotype bisa menempel kepada golongan etnis atau ras hanya karena segelintir orang dari mereka yang melakukan tuduhan itu?

Diskriminasi terhadap penyandang cacat, baik itu cacat fisik maupun mental. Apakah mereka—yang terlahir cacat—pernah memilih untuk dilahirkan? Media hiburan memegang peranan besar dalam eksploitasi penyandang cacat; dengan adanya sinetron dan komedi slapstick yang menjadikan kecacatan sebagai bahan lelucon untuk ditertawakan melampaui batas kemanusiaan. Tidakkah kita ingat, bahwa kita sama-sama diciptakan dari satu sel ovum dan satu sel sperma? Dan ”kenormalan” kita hanyalah wujud lain dari keanekaragaman itu sendiri. Jadi, mengapa harus tertawa?

Ironisnya, inilah realita yang diserap oleh anak-anak Indonesia. Kenyataan yang diturunkan oleh generasi di atas mereka. Pandangan bahwa kubu mayoritas dan minoritas nyata adanya. Pandangan bahwa normal dan abnormal tanpa meninjau ulang kemanusiaan benar adanya.

Akankah sistem seperti ini yang diwariskan kepada anak dan cucu kita? Sistem yang mempermasalahkan perbedaan, menciptaan kebencian dan pembedaan—di saat kita seharusnya menyadari bahwa perbedaan itu sangat wajar dan memang seharusnya terjadi. Apakah agama harus dijadikan perisai pembelaan diri untuk mengatakan bahwa LGBT adalah makhluk kotor dan dibenci Tuhan? Bukankah agama mengajarkan kita untuk saling toleran, menghargai perbedaan yang sengaja diciptakan Tuhan agar kita bisa saling mengisi?

Filter Budaya

Teman, mengapa bangsa Barat mampu memiliki nilai toleransi yang tinggi terhadap kaum-kaum ”terminoritaskan”? Kita melihat pernikahan sesama gender dilegalkan di Belanda, warna kulit bukan masalah dalam pemilu presiden di Amerika Serikat, hak penyandang cacat dihormati dan dipenuhi di jalan-jalan publik di banyak negara maju, keragaman kepercayaan dibiarkan berkembang selama tidak mengganggu masyarakat.

Saya kira inilah bentuk pandangan di mana manusia mampu melihat sesamanya secara equal. Pandangan bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan panji yang menangguhkan keberadaan manusia sebagai makhluk yang patut dihormati—bagaimana pun bentuknya.

Bisakah Indonesia mengadopsi hal seperti itu?

Kita semua paham bahwa—sama seperti budaya kita—budaya Barat juga mempunyai sisi positif dan negatif. Dan tentu kita harus bijak menyaring mana yang mampu diaplikasikan di negara kita dan mana yang tidak. Tetapi, apakah hanya budaya Barat yang berkewajiban untuk disaring?

Filter budaya. Sudah seharusnya mesin ini tidak hanya digunakan untuk menyaring budaya luar, tetapi juga budaya dalam. Kita harus cermat memandang sesuatu secara objektif. Bukan hanya karena hal itu telah “mengakar” maka kita harus tetap mempertahankannya sampai ras kita punah, tetapi kita harus mengevaluasi dampak-dampaknya bagi kehidupan dan relevansinya terhadap zaman yang kita hadapi.

Peluang dan Kombinasi, Permainan Tuhan

HAM merupakan harga yang tak bisa ditawar. Jika NKRI adalah harga mati, maka saya lebih suka menyebut HAM adalah harga hidup. Selain UUD 1945, Indonesia juga mempunyai UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diksriminasi Ras dan Etnis. Ketiganya mengatur kehidupan bertoleransi dalam berbangsa dan bernegara. Dalam norma agama—tak perlu ditanya lagi—dialah sumber perintah tentang toleransi—yang tertua—yang pernah hadir di Bumi. Sebuah pesan tersurat dari Tuhan yang terkadang sering kita salahartikan.

Tidakkah negeri ini menjadi lebih damai bila kita hidup dalam toleransi? Ketika anak-anak Indonesia bisa hidup di lingkungan yang penuh ketentraman dalam perbedaan, diversitas yang diusung menjadi kebanggaan dan saling isi satu sama lain. Bukankah ini yang kita cita-citakan? Alih-alih mencari kemenangan melalui perang mulut dan drama politik yang tak berujung, saatnya kembali melirik jati diri kita sebagai manusia.

Kita mempunyai hak untuk merasa aman, untuk dianggap, untuk bisa mendapat pendidikan, inilah yang seharusnya mulai kita perjuangkan sedari sekarang, dengan cara mengenalkan kepada anak-anak, teman-teman, dan keluarga kita, betapa indahnya toleransi dalam diversitas.

Kemajuan peradaban sangat mungkin terjadi jika kita menerapkan sikap toleransi. Semua pihak akan merasa mempunyai kesempatan yang sama untuk bersaing secara sehat. Semua bidang akan terpacu untuk berkembang. Imbasnya, tentu saja kemajuan bagi negara itu sendiri. Maukah Indonesia mencobanya?

Dari perjumpaan dengan sahabat-sahabat daerah tahun lalu, saya bisa menyimpulkan bahwa diversitas itu benar adanya. Tetapi lebih dari itu, saya juga melihat adanya sebongkah semangat. Semangat anak daerah yang mengalami ketidakadilan semacam ini, semangat anak daerah yang optimis akan perkembangan diri dan tetap menjadi diri mereka sendiri meski terlahir berbeda—kumpulan semangat yang seolah-olah membentuk semangat bangsa yang menginginkan adanya perubahan pada negeri ini. Saya beruntung bisa mengenal mereka, anak-anak kepulauan yang kuat dan bercita-cita tinggi.

Banyak pertanyaan dalam tulisan ini. Saya yakin jawabannya sudah ada di dalam hati Teman-teman. Ini semua hanyalah permainan peluang dan kombinasi yang Tuhan sedang ajarkan kepada kita. Siapa yang mendapat warna merah, siapa yang mendapat warna biru, warna hijau, warna kuning—kita sebagai anak-anak bangsa harus mampu menyatukannya ke dalam sebuah kotak. Kotak raksasa penuh warna-warni krayon yang kita namakan Indonesia.

Penulis : Rully Satria (Pelajar SMA Negeri 3 Padang)

Loading...

Pos terkait