Istri Caleg Aniaya Pembantu, Berakhir Damai ?

Pelaku ST, saat diamankan kepolisian. FOTO/GS
Pelaku ST, saat diamankan kepolisian. FOTO/GS
Pelaku ST, saat diamankan kepolisian. FOTO/GS

Seorang pembantu rumah tangga bernama Novia Amalia (16) menjadi sasaran penganiayaan majikannya bernisial ST (36) di kawasan Berok Nipah, Padang. Lantaran tidak tahan dengan siksaan majikannya, pembantu yang baru lima bulan bekerja itu melaporkannya kepada para tetangga, Senin (20/1) malam.

Berdasarkan informasi, majikannya itu merupakan istri salah seorang Calon Legislatif (Caleg) dari PPP untuk DPRD Sumbar. Selama bekerja, dirinya mengaku kerap mendapatkan siksaan berupa dipukul memakai sendok, pisau, gunting, dan ditinju di bagian wajahnya.

Para tetangga yang mendengar informasi itu pun langsung beramai-ramai mendatangi rumah ST sembari memanggil pihak kepolisian guna menangkap sang majikan. Bahkan, warga yang sudah geram atas perbuatan ST itu sempat ingin membakar rumahnya. Beruntung, polisi cepat datang, dan langsung membawa pelaku ke Polresta Kota Padang.

Korban sendiri mengaku bekerja disana karena diajak sang suami ST dengan upah gaji sekitar Rp.900 ribu untuk setiap bulannya. “Karena bapak (suami pelaku.red) masih ada hubungan saudara dengan ayah saya, makanya saya ikut lagian setelah tamat sekolah saya juga tidak bekerja,” katanya kepada petugas SPKT Polresta Padang, tadi malam.

Setelah seminggu bekerja, Novia langsung merasakan gelagat yang tidak baik. Kalau sang suami berada di rumah, ST bersikap manis seolah Novia adalah anaknya. Tetapi, jika sang suami tidak ada, ST pun memperlakukannya dengan cara kasar.

“Dia mulai main pukul kalau saya ada kesalahan sedikit saja pak, bahkan sampai lebam dan membiru badan saya,” jelasnya.

Selama bekerja, Novia juga tidak pernah menerima upah gaji dari ST yang telah dijanjikan suaminya itu. “Saya hanya bisa menahan semuanya pak, hanya bisa nangis karena perlakukan ibuk seperti itu,” tuturnya.

Ketua RT setempat, Febrianto menyebutkan, warga sangat geram setelah mendengar pengakuan Novia, dan langsung mendatangi rumah ST. Saat mendatangi rumah ST, pelaku berada di dalam rumah bersama Novia dan kedua anaknya. ”Perkataan dia membuat kami semua tersulut emosi, makanya yang sudah berkerumun dari tadi emosi,” katanya di lokasi kejadian.

Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Iwan Ariyandhi mengatakan, memang malam itu korban maupun pelaku telah diamankan di Polresta Padang. Namun, adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yang berakhir damai. ”ST mau membayar pesangon ataupun gaji Novia yang sudah tertahan lebih dari tiga bulan tersebut,” katanya di Polresta Padang, Selasa (21/1) siang.

Sementara, Koordinator Woman Crisis Center (WCC) Nurani Perempuan, Yefri Heriani menuturkan, kasus seperti ini polisi setidaknya mampu menjadi corong dan memberikan perlindungan hukum terhadap korban. Pasalnya, pembantu rumah tangga adalah profesi yang tidak ada perlindungan hukumnya.

”Saat ini cenderung orang melihat rendah profesi tersebut, padahal apabila dikaji dalam kacamata kemanusiaan, tindakan mereka sangat mulia,” katanya saat dihubungi via seluler, sore.

Selain itu, harus ada peran aktif dari masyarakat dan aparat yang harus memahami UU KDRT dimana dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

“Ada ancaman hukuman yang menanti para pelakunya, polisi dalam hal ini harus bertindak tegas ditambah lagi dengan masyarakat sekitar,” tutupnya.

Loading...

Pos terkait