Sumbar dalam Ancaman Gempa Darat

Jam Gadang. FOTO/INDOESIA TRAVEL
Jam Gadang. FOTO/INDOESIA TRAVEL

Sumatera Barat merupakan provinsi yang dinilai termasuk salah satu wilayah dengan potensi bencana gempa cukup besar.

Megatrush alias gempa besar yang diprediksikan banyak pihak menjadi salah satu bencana terbesar yang berpeluang melanda Sumatera Barat.
Sejak gempa dan tsunami melanda Provinsi Aceh tahun 2004, Sumbar kini bersiap dan menghadapi kemungkinan bencana gempa dan tsunami yang bisa lebih dahsyat dari apa yang pernah terjadi di Aceh.
Segala daya dan upaya untuk mengetahui lebih dini bencana besar itu telah dikerahkan. Pemerintah daerah maupun pusat dengan berbagai lembaga terkait bencana telah berkerja sama untuk mengurangi dampak korban jiwa jika megatrush nantinya benar-benar melanda.
Namun, yang patut disayangkan, ada yang terlupakan dari semua kesiapsiagaan itu.
Ternyata Ranah Minang masih menyimpan bencana gempa lain yang tak kalah hebatnya, yakni gempa darat yang berasal dari empat dari tujuh segmen dari Patahan Sumatera di Sumbar.
“Sumbar itu ada empat segmen yang perlu dan penting dipikirkan juga. Karena peluang terjadinya gempa darat lebih nyata,” kata Kepala Pelaksana Operasi dari Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, Ade Edward kepada www.menit.tv, Senin 17 Februari 2014.
Di Sumatera Barat terdapat empat segmen patahan Sumatera yang memiliki sejarah bencana gempa darat mematikan.
Keempat segmen patahan Sumatera itu antara lain: Segmen Sumpu di Pasaman, Segmen Sianok, Segmen Barumun di Pasaman Timur dan Segmen Suliti di Kabupaten Solsel dan Kabupaten Solok.
“Keempat segmen itu berpeluang kembali melepaskan energinya dan perlu diingat, jika terjadi gempa maka berada pada posisi dangkal,” jelas Ade.
Dari hasil evaluasi dan catatan sejarah, gempa yang terjadi di empat segmen itu memiliki skala di atas 5.0 Skala Richter. Seperti yang terjadi di tahun 2007 dan 2009 lalu.
“Kita tahu gempa darat lebih merusak ketimbang gempa di perairan,” kata Ade.
Dua Segmen Pemicu Gempa
Ade menjelaskan, ada dua segmen dari empat segmen yang dikhawatirkan akan melepaskan energi dalam bentuk gempa darat. Yaitu Segmen Barumun dan Segmen Suliti.
Kedua segmen ini sudah lama terdiam dan menyimpan energi. “Barumun sudah 150 tahun tidak melepaskan energi dan Suliti sudah 61 tahun,” jelasnya.
Memang tidak ada yang dapat mengetahui pasti kapan dan seberap besar gempa yang akan terjadi jika Barumun dan Suliti melepaskan energi.
“Tapi diperkirakan gempa yang dihasilkan dari pelepasan energi di atas tujuh skala richter,” paparnya.
Sayangnya, sejauh ini, BPBD Provinsi maupun BNPB dan pihak terkait seolah melupakan segmen-segmen itu. Sebab menurut pengakuan Ade, hingga saat ini, belum ada skenario penanggulangan bencana jika terjadi gempa darat di Segmen Barumun dan Suliti.
“Harapan saya masyarakat tetap waspada, ini bukan untuk menakuti tapi untuk membuat kita lebih siaga demi keselamatan semuanya,” kata Ade.
Komentar
Loading...
BERITA TERKAIT