Politisi PDIP: PDIP Tidak Ikut Campur

Ilustrasi Presiden Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputeri Foto: Liputan6.com

Ilustrasi Presiden Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputeri Foto: Liputan6.com

Terkait kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Presiden Joko Widodo dikabarkan mendapat pengaruh dari partai pengusungnya PDIP dan dari ketua umum partai tersebut Megawati Soekarnoputeri. Terutama dalam penunjukan Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai calon Kapolri. Namun, hal ini dibantah oleh Ketua Tim Hukum dan Advokasi DPP PDIP, Arteria Dahlan.

Menurut Arteria PDIP selaku partai pengusung sudah sewajarnya memberikan masukan kepada Presiden Jokowi. Kemudian terkait penunjukan Budi Gunawan Arteria mengakui memang ada sedikit pembicaraan dengan Megawati tetapi tidak ada tekanan.

“Di mana-mana partai pengusung pasti dimintai pendapatnya. PDIP mungkin partai paling baik nggak mau cawe-cawe (ikut campur). Ibu Mega dianggap di balik semua ini, bahkan Ibu Mega dibilang ngotot, ya nggaklah. Perkara bincang BG ada tapi sepenuhnya itu hak presiden. Bu Mega kan pernah jadi presiden, jadi tahu. Ibu Mega ini tulus, makanya harus kenali lebih dekat,” ujarnya Minggu (1/2) kemarin.

Sedangkan tentang kisruh KPK dan Polri, Arteria berpendapat bahwa KPK telah mengkriminalisasi Polri. Penentuan Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK dihubungkannya dengan kabar keinginan Ketua KPK Abraham Samad menjadi cawapres.

“Polri dikriminalisasi,” ucap Arteria.

Arteria mengatakan bahwa KPK sebagai salah satu lembaga negara harus sejalan dengan kebijakan negara. Selain itu, KPK juga berkomunikasi dengan Kompolnas tentang pencalonan Budi Gunawan. Bahkan KPK menurutnya, dapat meminta kepada DPR untuk ikut dalam uji kelayakan calon Kapolri tersebut.

“Seharusnya minta ke DPR, tolong kami ikut dalam fit and proper test,” tuturnya.

Komentar

Jokowi KPK vs Polri PDIP