Pekanbaru ‘Ditelan’ Kabut Asap

Ilustrasi. Foto : Liputan6.com

Ilustrasi. Foto : Liputan6.com

Kabut asap kebakaran lahan dan hutan makin pekat, sehingga seakan-akan “menelan” Kota Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, Rabu (21/10).

Dari pantauan di lokasi, matahari sepanjang pagi hingga petang terhalang asap pekat kekuning-kuningan, sehingga langit seperti sedang mendung, dan suasana kota pun mencekam.

Pengendara mobil terpaksa menyalakan lampu sejak siang hari, sementara warga mengeluhkan asap sangat terasa hingga ke dalam rumah.

“Semenjak pagi saya buka jendela, warna asap kekuning-kuningan dan menyeramkan. Asap terasa sampai ke dalam rumah,” kata seorang warga Pekanbaru, Wanto (45).

Seorang warga lain, Widiarso (32) mengatakan dirinya mengalami iritasi kulit, karena sering berada di luar ruangan saat kabut asap pekat.

“Badan saya gatal-gatal sampai berobat ke dokter, dan katanya saya terkena iritasi kulit karena terpapar asap,” ujarnya.

Seorang warga lainnya, Indra Yose (38) mengatakan kondisi asap pekat di Pekanbaru makin mengkhawatirkan terutama bagi anak-anak yang rentan terkena penyakit.

Ia mengaku berencana mengungsikan anak-anaknya ke Provinsi Sumatera Barat karena di daerah itu asap lebih tipis.

“Kondisi asap sepertinya sudah berbahaya di Riau ini. Saya akan bawa anak-anak mengungsi ke Sumbar,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, sebagian besar wilayah Riau diselimuti asap pekat dari kebakaran lahan dan hutan, sehingga membuat jarak pandang menurun drastis.

“Jarak pandang di Kota Pekanbaru hanya 300 meter, Dumai 300 meter, Kabupaten Pelalawan 200 meter dan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu 200 meter,” kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sugarin.

Asap yang menyelimuti Riau berasal dari kebakaran yang terjadi di daerah itu, seperti di Kabupaten Pelalawan dan Kepulauan Meranti. Selain itu, kondisi asap makin parah karena kiriman dari kebakaran di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi.

Asap kebakaran membuat kondisi udara di Riau dalam status berbahaya, karena rata-rata di atas 500 indeks standar pencemaran udara (ISPU).

Selain itu, akibat dari kabut asap ini, tiga anak-anak meninggal dunia, salah satunya adalah Ramadhani Lutfi Aerli (9).

Lutfi dinyatakan meninggal dunia pada Rabu dini hari, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Santa Maria pada Selasa (20/10) malam.

Anak dari pasangan Eri Wirya dan Lili ini, sebelum meninggal sempat mengalami demam tinggi.

(Aktual.com/Antara)

Komentar

Bencana Kabut Asap Pemerintah Peristiwa