Para Ahli Dibalik Identifikasi Jenazah Korban AirAsia

Data-data Tim DVI Foto: liputan6.com

Data-data Tim DVI. Foto: liputan6.com

Pencarian jenazah korban AirAsia QZ8501 masih terus dilakukan. Pesawat yang jatuh pada tanggal 28 Desember 2014 ini mengangkut sebanyak 162 orang termasuk awak kapal saat itu. Hingga saat ini, sudah 40 jenazah korban ditemukan oleh tim SARS gabungan. Jenazah-jenazah tersebut kemudian akan diidentifikasi oleh tim Disaster and Victim Identification (DVI) gabungan yang terdiri dari para ahli dalam bidang patologi forensik, sidik jari, biologi forensik, odontologi forensik dan antropologi forensik.

Demi ketepatan identifikasi jenazah, para ahli tim DVI gabungan ini memiliki jobnya masing-masing. Ahli patologi forensik misalnya, bertugas untuk melakukan pemeriksaan eksternal dan internal tubuh korban. Selanjutnya ahli patologi forensik akan bekerjasama dengan ahli antropologi forensik untuk mengetahui profil biologis dari jenazah yang ditemukan seperti usia, jenis kelamin dan etnis. Sedangkan sidik jari yang ditemukan dalam tubuh korban akan diidentifikasi oleh ahli sidik jari dan DNA korban akan diidentifikasi oleh ahli biologi forensik. Kemudian ahli odontologi forensik akan memeriksa kondisi gigi jenazah yang ditemukan.

021868200_1420664520-20150107_120704

AKBP Sumy Hastry Purwanti Foto: liputan6.com

Salah satu ahli yang bekerja dalam tim DVI gabungan ini yaitu AKBP Sumy Hastry Purwanti, dokter spesialis forensik DVI Polri. Beliau bersama teman-temannya bertugas untuk mengidentifikasi jenazah yang telah 80 persen mengalami pembusukan atau bahkan sudah tidak utuh lagi. Namun, beliau sudah terbiasa dengan keadaan tersebut karena telah terlibat dalam berbagai peristiwa dan bencana alam. Mulai dari bom Bali I, bom Bali II, bom Hotel JW Marriott, bencana alam tsunami di Aceh, kecelakaan pesawat Mandala Airlines, kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 hingga kecelakaan pesawat Malaysia Airlines MH17 di perbatasan Rusia dan Ukraina tahun lalu.

“Kebetulan kan kerja di kepolisian dan memiliki keahlian, jadinya sering diminta bantuan kalau ada kejadian di dalam dan luar negeri,” ujar Hastry.

4642-ahli-forensik-gigi-ugm-bantu-identifikasi-korban-air-asia

Sudibyo Foto: ugm.ac.id

Selain itu, juga ada dua orang ahli odontologi forensik Universitas Gadjah Mada  yang ikut membantu identifikasi jenazah korban AirAsia tersebut, yaitu Sudibyo dan Ahmad Syaify. Menurut Sudibyo, proses identifikasi korban lewat gigi sebenarnya tidak sulit, yaitu dengan cara mengetahui cerita dari para keluarga mengenai kondisi gigi korban selama masih hidup.

“Cerita keluarga sudah bisa memberikan bantuan bagi kita mengidentifikasi. Misalnya anak saya giginya tidak rata, lima bulan lalu gigi rahang pernah patah atau salah satu giginya pernah dicabut ke dokter gigi,” terangnya.

Akan tetapi, Sudibyo berpendapat bahwa tidak mudah mengidentifikasi jenazah korban AirAsia  karena umumnya kondisi wajah korban telah rusak karena mengalami benturan dan terendam di air laut.

Tidak hanya ahli forensik dalam negeri yang dikerahkan untuk mengidentifikasi korban AirAsia. Ahli forensik dari Australia pun juga ikut membantu proses identifikasi korban. Kepolisian Federal Australia (AFP) telah mengirimkan tiga petugas yang ahli dalam identifikasi korban bencana dan dua ahli forensik sipil ke Surabaya.

“Australia terus melakukan kontak langsung dengan Indonesia untuk menawarkan bantuan kepada Indonesia dalam menangani kecelakaan penerbangan QZ8501,” ujar juru bicara Pemerintah Federal Australia.

Selain ahli forensik, dalam mengidentifikasi jenazah korban juga diperlukan bantuan dari fotografer, ahli radiolog, tim wawancara, manajer properti, investigator hingga manajer ruang jenazah.

Komentar

Air Asia Hilang