Kabarpadang.com
Mengabarkan Ranah Minang

Ombak Tinggi Rote di Ujung Selatan Negeri

Pantai Nemberala di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu tujuan wisata selancar di Tanah Air yang disukai peselancar dari sejumlah negara. Sayangnya, seperti terlihat beberapa waktu lalu, kawasan itu kurang tertata dan minim pemasaran. (Foto:Kompas.com)
Pantai Nemberala di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu tujuan wisata selancar di Tanah Air yang disukai peselancar dari sejumlah negara. Sayangnya, seperti terlihat beberapa waktu lalu, kawasan itu kurang tertata dan minim pemasaran. (Foto:Kompas.com)

Nemberala! Nama pantai itu terus terngiang di telinga kami, rombongan wartawan, perwakilan The Nature Conservancy, dan Dewan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pagi-pagi kami menuju ke sana.

Pukul 07.30, kami tiba di Pantai Nemberala, Kabupaten Rote Ndao. Rasa penasaran kami terpenuhi sudah. Nemberala. Nemberala. Inilah rupanya Pantai Nemberala yang disukai para peselancar dunia itu. Pohon kelapa dan lontar mendominasi pesisirnya.

Perjalanan 1,5 jam dari Hotel Tiberias, Rote Tengah, terbayar sudah. Di hadapan kami, awal November itu, terbentang laut biru yang seperti tiada batasnya. Tiga pulau yang terlihat jauh di sana menyadarkan bahwa masih ada batas di cakrawala. Pulau-pulau itu ialah Nuse, Ndo’o, dan Ndao. Ketiga pulau berada di koridor perairan Laut Sawu dan Samudra Hindia.

Gaspar Enga (50), anggota Dewan Konservasi Perairan Provinsi (DKPP) NTT, menunjuk pulau di tengah. ”Saya dengar Pulau Ndo’o sedang dibangun oleh salah seorang cucu Soeharto. Saya tidak yakin soal itu, tetapi banyak yang membicarakannya. Entah untuk dijadikan apa,” ungkapnya gusar.

Pulau Ndo’o yang ditunjuk Gaspar itu diapit oleh Nuse dan Ndao yang keduanya lebih besar daripada Pulau Ndo’o. Pulau Nuse di sebelah timur, sementara Ndao di barat. ”Saya sempat bermalam di Pulau Ndao karena angin kencang. Kapal tak berani berangkat, khawatir terjadi badai,” kisah Gaspar yang ibunya orang Rote, sementara bapaknya dari Flores. ”Orangtua saya bertemu di Kupang. Lahirlah saya di sana,” ujarnya terkekeh.

Rote adalah pulau paling selatan dari jajaran kepulauan Indonesia yang berpenghuni. Satu pulau lain, yakni Ndana, merupakan pulau paling selatan yang berbatasan dengan Samudra Hindia sebelum masuk ke wilayah perairan Australia. Pulau Ndana tidak berpenghuni.

Untuk bisa melihat pulau tak berpenghuni itu, kami meluncur sekitar 2 kilometer dari Nemberala menuju Pantai Boa. Dari kejauhan terlihat ombak yang bergulung-gulung dengan dua orang timbul tenggelam di antaranya. Mereka, para peselancar, tergila-gila menikmati ombak dengan ketinggian sampai 6 meter!

Dari bibir pantai yang sama, sebuah pulau terlihat dekat. ”Itu Ndana,” ungkap Yos Fanggidae, anggota Forum Adat Leokunak Rote.

Namun, tidak ada apa-apa di Boa. Tak ada tempat penginapan (resor) atau bangunan apa pun yang menandai kawasan itu sebagai tempat wisata. Dari jalan utama yang menghubungkan Nemberala dengan Boa terhampar tanah luas dengan patok-patok yang mengelilinginya.

Fantastis!

Seorang turis dari Australia bernama Sid (55) menyapa kami dengan hangat di Boa. Lelaki yang bekerja di bidang perkapalan itu sudah dua kali datang ke Rote. Kedatangannya yang pertama ialah enam tahun lalu. Rote, menurut dia, kini lebih ramai. Setiap kali datang, ia menginap di Nemberala karena ia punya teman yang memiliki resor pribadi di sana. Sid pun datang ke Rote bersama pasangannya kendati pagi itu ia berselancar sendiri di Boa.

”Aduh! Maaf ya, saya tidak tahan untuk tidak melihatnya. Ah, cantik sekali!” ujarnya tiba-tiba memutus percakapan. Ia menambatkan pandangannya pada gelombang besar yang tiga kali bergulung dan mengangkat tubuh seorang peselancar ke udara, lalu seperti menelannya kembali ke lautan. ”Sayang sekali aku melewatkan yang satu itu,” ungkapnya lagi.

Sid memastikan bahwa ombak di Boa merupakan salah satu yang terbaik di dunia. ”Ini fantastis,” katanya.

Ia memilih Rote karena berbagai pertimbangan. Beberapa kali ia pergi ke Bali, tetapi kecewa karena Bali sudah sangat ramai. Ia menemui ketenangan yang dicarinya di Rote. Ia ingin menikmati selancar tanpa banyak gangguan dari pedagang yang menawarkan ini dan itu.

Oleh karena itu, Sid agak khawatir Rote penuh sampah dan terlalu ramai seperti Bali. Hal tersebut akan mengurangi tantangan di pulau itu. Menurut dia, Rote lebih memerlukan sekolah dan pelayanan kesehatan daripada pembangunan kawasan hiburan besar-besaran.

Pendapat Sid relevan dengan kondisi di Rote. Jimmy Pello, Guru Besar Hukum Lingkungan Universitas Cendana, Kupang, memperkirakan, kurang dari 10 persen pemuda Rote yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sekitar 40 persen anak-anak Rote mengenyam pendidikan dasar, tetapi sebagian besar putus sekolah.

”Banyak orang Rote berhasil di luar pulau. Namun, mereka kesulitan memajukan orang Rote di pulau sendiri. Orang-orang Ambon dalam sejarahnya banyak membangun Rote,” ujar Jimmy yang asli Rote.

Kemajuan Rote di bidang pendidikan dan pelayanan publik akan banyak memerlukan peran pemerintah daerah dan pusat. Warga, misalnya, masih mengambil air bersih dari sumber yang jaraknya berkilo-kilo meter.

Ketimpangan

Ketidakseimbangan pembangunan, antara lain, kentara jika membandingkan kondisi Nemberala dengan umumnya daratan Rote. Di Nemberala sedikitnya ada enam resor dan beberapa rumah megah dengan halaman luas yang dimiliki orang asing.

Awal November, suasana Nemberala sepi. November bukan bulan liburan bagi pelancong dari luar negeri. Mereka yang datang ke Nemberala dan Boa yang masih termasuk kawasan di dalamnya adalah para turis dengan minat khusus, terutama selancar (surfing) dan selam (diving). Mike (35), turis Belanda, bahkan membuat situs khusus bagi sekolah selam yang dirintisnya di Nemberala.

Sebagai kawasan wisata, Nemberala terkesan dibiarkan apa adanya. Dari jalan utama yang menghubungkan Rote Tengah hingga ke Nemberala, sekitar 2 kilometer (km) kondisinya rusak. ”Banyak hal perlu diperbaiki di sini, seperti jaringan internet, telepon, dan jalan,” ungkap Mike.

Belum ada batasan jelas antara kawasan wisata dan daerah budidaya rumput laut warga. Di sepanjang pesisir Nemberala, nelayan menjemur rumput laut mereka, berhadap-hadapan dengan resor tempat wisatawan. Kebersihan pantai yang kurang terjaga adalah hal lainnya lagi yang membuat Nemberala, awal November itu, di luar bayangan.

Kelangsungan Pantai Nemberala nantinya bergantung pada status Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu. Akhir tahun ini, Laut Sawu diharapkan akan ditetapkan pemerintah pusat sebagai TNP. Hal itu otomatis memerlukan zonasi perairan dan pesisir, yakni untuk konservasi, perikanan, pemanfaatan umum, dan wisata bahari.

Penetapan TNP Laut Sawu diharapkan bisa mendongkrak kesejahteraan warga Rote. Hal yang terpenting ialah penetapan itu tidak mengganggu budaya lontar yang menghidupi dan memagari kehidupan orang Rote.

James J Fox dalam bukunya yang berjudul Harvest of The Palm (1977) menyebut penggunaan lontar dalam kehidupan orang Rote hampir eksploitatif sebab segala bagian lontar mereka manfaatkan, termasuk sebagian suku yang mengolah daun lontar sebagai pakaian bekerja. ”Dari hidup sampai matinya, orang Rote bergantung pada lontar yang tumbuh alami di tanah mereka,” tulis James. (Sumber: Kompas.com/Penulis: Rini Kustiasih)

Komentar
Loading...
BERITA TERKAIT