Kabarpadang.com
Mengabarkan Ranah Minang

Mentawai Siap Memanah Anda

Salah seorang warga Kepulauan Mentawai saat memerankan menggunakan panah beracun. Panah beracun ini akan difestivalkan pekan depan./Dokumenteteri.
Salah seorang warga Kepulauan Mentawai saat memerankan menggunakan panah beracun. Panah beracun ini akan difestivalkan pekan depan./Dokumenteteri.

Mentawai begitulah ia disebut-sebut. Selain memiliki keindahan alam, juga memiliki tradisi yang masih terjaga. Tradisi penemuan dari para leluhur masih terus lestari.

Hanya saja tidak semua terexplorasi ke luar.  Jika, selama ini hanya mengenal tato Mentawai nan populer di dunia. Ada satu hal perlu kamu ketahui yani, panah beracun khas Mentawai. Explorasi panah beracun khas Mentawai akan dipertunjukan pada  26 sampai 28 Juli ini, pengunjung bahkan bisa membawa pulang replika panah beracun sebagai aksesoris.

Gelaran ini  lebih khusus sebab mengangkat akan tradisi budaya. Hal ini penting diangkat dan diperlihatkan ke mata dunia, agar tidak multitafsir terhadap Panah Mentawai. Itulah bumi Sikerei, dimana masyarakatnya memiliki tradisi memanah. Tradisi tertua di dunia dan masih banyak lagi, misalnya kehidupan Sikerei (tabib) dengan sejuta keahlian. Pekan depan, Anda akan melihat langsung busur panah itu diolesi racun yang mampu mematikan dalam jangka waktu lima menit.

Esmat Sakulok, tokoh pemuda Kepulauan Mentawai, Sumbar menerangkan, busur-busur panah nan diolesi racun itu, merupakan perisai bagi masyarakat setempat. Sebagai pelindung kala terjadi serangan mengancam permukiman serta nyawa, ketika satwa liar dan manusia-manusia yang hendak mengganggu. Tapi, era saat ini penggunaannya dimanfaatkan untuk berburu. Aktivitas perburuan juga menandakan seorang laki-laki Mentawai telah dewasa.

“Berburu dan memanah bagi masyarakat kami menunjukan identitas sosial. Ini telah lama sejak lahirnya nenek moyang kami (Mentawai),” katanya.

Berburu pun tak sembarang waktu, semua dilakukan untuk kepentingan adat dan sangat sakral. Panah Mentawai nan beracun yang dibuat tidak semua umat yang bermukim di bumi Sikerei mampu membuatnya walau bahan dasarnya sangat mudah diperoleh yakni, pohon aren. Hanya saja, masih ada ramuan campuran lain seperti dedaunan hijau dalam hutan Mentawai.

“Ramuan-ramuannya hanya si pembuat yang tahu, demikian juga paduan lainnya. Karena pengetahuan serta olahannya diturunkan oleh nenek moyang dan sampai sekarang masih bertahan,” ujarnya.

Jika penasaran dan tidak percaya dengan panah beracun Mentawai yang sedikit saja tergores pada kulit manusia atau satwa nan langsung mengundang kematian itu. Silahkan datang gelaran festival tanggal 26-28 Juli ini.

“Pengunjung akan diajarkan cara menggunakan panah, melihat langsung proses meracik racun serta melihat prosesi berburu. Tidak hanya itu dalam festival ini akan ditampilkan kesenian tradisional yang jarang ditampilkan selama ini, seperti tari turuk langgai,” ringkasnya.

Komentar
Loading...
BERITA TERKAIT