Lima Mahasiswa Brawijiaya Ciptakan “EI-Gun” Kembangkan Inseminasi Buatan

Universitas Brawijaya. Foto : Istimewa

Universitas Brawijaya. Foto : Istimewa

Malang – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya Malang menciptakan alat “Electrical Insemination Gun” (EI-GUN), yang berfungsi untuk inseminasi buatan atau mengawinkan ternak dengan menggunakan semen atau sperma segar.

Ketua tim peneliti EI-GUN Mirza Ita Dewi Adiana di Malang, Jawa Timur, Minggu (4/10) mengatakan dalam proses inseminasi buatan (IB) diperlukan bahan semen beku. Selanjutnya dilakukan proses pembekuan semen yang membutuhkan keterampilan khusus dengan alat impor dari Jerman yang harganya ratusan juta rupiah.

“Alat EI-GUN ini dikhususkan untuk IB semen segar, sehingga peternak tinggal mengejakulasi dan mengawinkan ternak tanpa alat impor dengan harga mahal seperti yang digunakan selama ini. Untuk saat ini alat EI-GUN ini kita terapkan untuk IB pada kambing dan kalau sudah berhasil, akan kita kembangkan lagi pada ternak besar seperti sapi,” katanya.

Ia mengemukakan ide diciptakannya alat EI-GUN itu, dilatarbelakangi dengan kondisi negara Indonesia yang merupakan negara agraris, namun kebutuhan pangannya masih tergolong belum tercukupi, khususnya di sektor peternakan, yakni protein hewani.

Rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia, katanya, sangat dipengaruhi oleh lambatnya pertumbuhan produktivitas populasi ternak yang ada di daerah, sehingga menyebabkan mahalnya harga pangan sumber protein hewani.

“Melihat kondisi tersebut, kami terdorong untuk menciptakan alat EI-GUN, yang berfungsi untuk IB atau mengawinkan ternak dengan menggunakan semen (sperma) segar,” ujarnya.

Selain Mirza Ita Dewi Adiana dari Fakultas Peternakan, mahasiswa lainnya yang bergabung dengan tim peneliti EI_GUN tersebut adalah Doni Herviyanto dari Fakultas Peternakan, Wahyu Setiawan (Fakultas Peternakan), Hermantoro Wahyu Pradana (FT Teknik Mesin), dan Ronny Ari Setiawan FT Teknik Elektro.

Lebih lanjut, Mirza mengatakan bahwa alat EI-GUN itu tercipta karena bantuan dana hibah dari Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diusulkan tahun 2014. Kelompok tersebut di bawah bimbingan dosen Peternakan Dr Gatot Ciptadi. “Sekarang alat itu sudah mulai diaplikasikan di tempat Mitra Kerjanya kita,” ucapnya.

Menurut dia, alat EI-GUN tersebut sangat membantu untuk proses IB dengan menggunakan semen segar, sebab sekali ejakulat bisa untuk mengkawinkan beberapa ekor.

“Alat ini lebih unggul dibanding alat gun biasa, sehingga saya pribadi merekomendasikan kepada seluruh inseminator maupun petani peternak, alangkah baiknya jika mengaplikasikan alat EI-GUN itu,” kata salah seorang inseminator kambing boer di wilayah Malang raya, Sumali.

Keunggulan EI-GUN adalah menggunakan sistem electrik dan portable. Walaupun menggunakan sistem electric atau berbahan listrik, alat tersebut tidak akan menyakiti ternak jika terjadi arus hubungan pendek (korsleting), terkena air atau kesalahan lainnya, sebab sudah dimodifikasi secara khusus.

Pada penyempurnaannya, alat EI-GUN itu nantinya akan dilengkapi dengan mini camera medis dan Tft lcd yang berguna untuk mempermudah mendesposisikan semen pada servix ternak betina. “Saya berharap, alat EI-GUN itu dapat membawa perubahan yang lebih baik demi kemajuan peternakan di Indonesia,” ujarnya.

Alat yang telah terdaftar Hak Paten di Sentra HKI LP3M itu, berhasil mengantarkan lima mahasiswa tersebut melaju pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-28 di Universitas Halu Oleo, Kendari-Sulawesi Tenggara, yang diselenggarakan pada 5-10 Oktober.

(Antara)

Komentar

Mahasiswa Teknologi