Jogja, Menggelar Festival Belut

Pepes belut dengan menggunakan galendo. Foto : Istimewa

Pepes belut dengan menggunakan galendo. Foto : Istimewa

Dinas Pasar Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar Festival dan Lomba Masak Belut untuk mempromosikan Pusat Kuliner Belut Godean.

“Festival dan Lomba Masak Belut ini akan diselenggarakan pada 4 Januari 2015 di Pusat Belut Godean,” kata Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman Tri Endah Yitnani, Kamis (1/1/2015).

Menurut dia Pusat Kuliner Belut Godean yang beroperasi sejak September 2013 merupakan salah satu upaya untuk menata pedagang kaki lima (PKL) pasar Godean yang sebagian besar adalah penjual belut.

“Selama ini di pasar belut Godean sudah terdapat 30 lapak penjual kripik belut dan lima lapak ditempati penjual kuliner belut,” katanya.

Ia mengatakan, nantinya lima pemenang festival dan lomba masak belut ini akan menempati lima lapak atau kios di pasar belut.

“Dengan diselenggarakannya festival dan lomba masak belut ini diharapkan dapat menjadi salah satu ikon kuliner di Sleman dan mengangkat perekonomian masyarakat Godean,” katanya.

Tri Endah mengatakan, jenis kuliner yang akan dilombakan meliputi tongseng belut, sambal belut, burger belut, rica-rica belut, dan berbagai olahan lainnya.

“Saat ini telah terdaftar sebanyak 23 peserta lomba dan akan bertambah lagi,” katanya.

Kepala Dinas Pasar ini juga menjanjikan bahwa lomba ini akan diadakan setahun sekali sedangkan festival kuliner belut akan diselenggarakan tiap enam bulan sekali.

“Selain itu, guna semakin meningkatkan kualitas produk kripik belut, ke depan akan dilakukan ‘grading’ kripik belut sehingga pembeli dapat membedakan kualitas kripik belut,” katanya.

Pengelola Omah Belut Godean Agus Subagyo di Godean tiap hari dipasok satu ton belut yang harganya saat ini mencapai Rp 28.000 per kilogram sehingga dapat diperkirakan berapa perputaran uang di Godean hanya untuk produk kripik belut saja.

“Belut mentah tersebut didatangkan dari Klaten, Jawa Tengah dan Ngawi, Jawa Timur,” katanya.

Ia mengatakan, sebagai pengelola Omah Belut, dirinya mencoba untuk beternak belut dengan menggunakan kolam-kolam mini dan belajar membudidayakan belut dengan cara organik yaitu tidak diberi pakan pelet.

“Pakan yang diberikan pada belut budidaya berupa bekicot dan lainnya,” katanya.

Agus juga mencoba memotivasi pengolah belut untuk membuat variasi rasa kripik belut. “Variasi olahan kripik belut tersebut misalnya pedas, manis dan variasi rasa lainnya,” katanya. (Kompas.com/ANTARA)

Komentar

Makanan