Kabarpadang.com
Mengabarkan Ranah Minang

Hidupkan Lagi Tradisi Lambung yang Hilang Pascatsunami

kompas
Usaha kue canai mamak bangkit kembali setelah terpuruk akibat tsunami.

Arus lalu lintas yang padat, suasana pasar yang gaduh, teriakan warga menjajakan dagangannya, hingga senyum warga menyabut tetamu yang berkunjung, itulah suasana yang bisa dinikmati di Kota Banda Aceh.

Kota kecil dengan berbagai sejarah yang dimilikinya, mulai dari kegemilangan para sultan yang meninggalkan jejak kebesaran hingga sejarah kehancuran yang tak terlupa karena musibah gempa dan tsunami tahun 2004 lalu.

Banda Aceh memang sempat hancur, nyaris tak bersisa. Gelombang raya dan guncangan gempa 9,2 SR menghancurkan seluruh kehidupan masyarakat, tak terkecuali sendi-sendi perekonomian warga yang sebelumnya berdiri kokoh.

Adalah Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Desa yang hanya berjarak 2 kilometer dari bibir pantai ini pernah hancur tak bersisa. Semua bangunan rata dengan tanah diluluhlantakkan oleh gelombang tsunami.

Desa berpenduduk 1.500 jiwa sebelum musibah tsunami itu kini bersisa 270 jiwa saja.

Makanan khas

Dulu desa ini sangat dikenal dengan usaha kue kering tradisional. Usaha rumahan yang menjaga tradisi daerah. Setiap rumah tangga memiliki usaha kue kering, mulai dari bhoy (bolu kering), dodol, dan meuseukat Aceh, kue ranting pohon (berbahan gula dan putih telur), hingga keukarah.

Semua ini adalah makanan khas Aceh yang selalu ada dalam setiap upacara adat dan perayaan hari besar agama Islam.

“Semua generasi pengrajin kue di sini sudah menjadi syuhada, meninggal dalam musibah tsunami yang lalu dan pastinya ini sebuah kehilangan generasi yang luar biasa bagi kami,” jelas Yubahar Zaini (70), Tuha Peut Desa Lambung, Kamis (25/12/2013).

Pascatsunami, sebut Yubahar, sulit membangkitkan kembali kemegahan Desa Lambung sebagai desa penghasil kue kering tradisional dan sebagai Desa Penjaga Tradisi.

“Sulitnya karena sudah tidak ada generasi lanjutan yang berinisiatif untuk membangkitkan kembali kemegahan masa lalu. Yang tersisa saat ini adalah orang-orang muda yang kalau diibaratkan masih muncul sebagai kuncup belum mekar dan dewasa,” ujarnya.

Hingga akhirnya, sebut Yubahar, ia meminta kepada anaknya, Rira (37), untuk bangkit dan membangkitkan kembali tradisi yang sempat hilang dan terkubur waktu.

“Saya minta anak saya untuk menjadi pelopor untuk membangkitkan kembali tradisi di desa ini, yaitu memproduksi kembali kue-kue tradisional Aceh,” ujar Yubahar.

Bangkit dari trauma dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan, Rira pun memenuhi permintaan sang ayah.

“Kami masih trauma, setelah tiga tahun pascatsunami, kami baru kembali ke Desa Lambung lagi, dan memulai kehidupan baru,” kenang Rira.

Menjaga tradisi

Rira pun menyadari bahwa banyak hal yang harus dibangkitkan kembali di desa kelahirannya itu. Ia pun memulai membuka kembali usaha pembuatan kue kering tradisional Aceh secara rumahan, yaitu kue canai, yang diberi label Canai Nyanyak.

“Nama Nyanyak saya ambil dari nama putri ketiga saya dan nama itu sangat Aceh sehingga nanti diharapkan bisa menjadi sebuah ikon yang menunjukkan kekhasan Aceh,” jelas ibu lima anak ini.

Bangkit dari sebuah keterpurukan hebat bukanlah hal mudah bagi Rira. Namun, semangat untuk mengembalikan sebuah tradisi yang sempat hilang menjadi sebuah semangat baru bagi Rira.

“Semoga ini menjadi awal yang baik bagi Desa Lambung dan setelah ini saya berharap akan ada penerus-penerus penjaga tradisi Aceh, terutama dunia kulinernya,” sebut Rira.

Sembilan tahun pascatsunami Aceh kebangkitan ekonomi bagi pelaku ekonomi kecil menengah memang bukan waktu yang cukup.

Upaya memulihkan trauma dan belajar bangkit kembali memang membutuhkan sebuah kekuatan yang besar.

Tak beda dengan Rira, hal yang sama juga dirasakan oleh Hendra (43), pedagang suvenir Aceh. Hendra mencoba bangkit kembali dari keterpurukannya pascatsunami Aceh tahun 2004 lalu.

“Bagi saya ini bukan sebuah penyesalan karena sudah kehilangan semua, tapi ini menjadi bagian penting dari hidup saya, untuk membuktikan apakah saya mampu atau tidak,” kata Hendra.

Saat ini, Hendra memang belum bisa mengembalikan semua yang pernah ada, tetapi berbekal semangat meniti hidup yang baru, Hendra kini mulai berdiri tegak menatap hidupnya ke depan.

“Tuhan sendiri menegaskan bahwa nasib kita tidak akan pernah berubah jika bukan kita sendiri yang mau mengubahnya, jadi kenapa harus berlama-lama bersedih, sekarang sudah waktunya bangkit lagi,” ujar Hendra.

Optimisme warga Aceh pascatsunami memang terlihat nyata. Perlahan tapi pasti denyut kehidupan di provinsi paling barat Indonesia ini sudah terasa detaknya. Kendati sudah bisa mengulum senyum, kenangan pahit yang memilukan sembilan tahun lalu tak pernah hilang dari ingatan. Doa dan harapan pun terus terucap dari hari ke hari untuk kehidupan yang lebih baik.


Penulis : Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami – Sumber:Kompas
Komentar
Loading...
BERITA TERKAIT