Dua Anggota DPR Sidak Agen Elpiji di Padang

Ilustrasi gas LPG 3 Kilogram. Foto : Istimewa

Ilustrasi gas LPG 3 Kilogram. Foto : Istimewa

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Mulyadi dan Endre Saifoel mendadak melakukan sidak pada dua agen Elpiji di Kota Padang, Jumat (21/10/2016). Sidak tersebut berkaitan dengan laporan masyarakat terhadap peredaran gas.

Menurut mereka, kedua agen tersebut memiliki catatan permasalahan dalam distribusi dan penyalahgunaan izin. Kedua agen yang disidak tersebut diantaranya agen yang berlokasi di kawasan Jalan Veteran dan Parak Karakah. Dalam pelaksanaannya, ada modus tertentu di penjualan gas di KOta Padang.

Jarak harga yang terlalu jauh antara gas 3 Kilogram dan 12 Kilogram, terdapat juga pengoplos. Tak hanya itu, adanya indikasi temuan agen pada satu kota yang menjual ke kota lainnya. “Misal, agen yang di Padang, hanya bisa menjual di Padang saja, tidak bisa ke daerah lain,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, sidak dilakukan lantaran agen tak lagi berperan sebagaimana izin semestinya. Agen merupakan bagian dari perusahaan yang mengedarkan gas melalui pangkalan dan diatur langsung oleh PT. Pertamina. “Artinya, agen ini adalah tempat distribusi barang, bukan untuk menjual,” tuturnya.

Dari agen yang ada di Jalan Veteran, dua anggota Komisi 7 tersebut didampingi oleh pihak Pertamina, Dirjen ESDM dan Kepala Dinas ESDM Sumatera Barat. Mereka juga geram dengan tingkah agen tersebut, sebab, kantor agen tersebut banyak kekurangan, terutama dari standar agen yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Di kantor agen itu minimal harus ada gudang tempat penyimpanan, kemudian ada akses truk untuk masuk ke dalam. Disini tidak ada satu pun, barang yang terlihat hampir tidak ada, lalu bangunan kantornya pun sangat kecil dan tidak masuk kriteria agen,” tutur Mulyadi.
Ia menyebut, sebelum melakukan sidak, setidaknya sudah ada surat peringatan dari PT. Pertamina untuk mengoperasikan kantor agen tersebut sesuai dengan kriterianya. Kondisi sama pun ditemukan di sebuah agen yang ada di kawasan Parak Karakah.

“Di Parak Karakah ini lebih parah, kita menemukan beberapa tabung yang disimpan, entah untuk apa. Yang jelas, dua agen ini akan kami beri sanksi,” kata Endre Saifoel.

Diakui Endre, saat ini pengawasan terhadap distribusi gas tersebut masih sangat lemah. Padahal, tahun lalu ada subsidi sekitar Rp30 Triliun dan di tahun ini sudah disetujui Rp28 Triliun hanya untuk gas. Jika masih ada temuan kesalahan distribusi gas ini, dia menyebut akan melakukan tindakan tegas, salah satunya berkaca ke UU yakni dipidanakan.

“Penyalahgunaan distribusi gas yang dilakukan oleh agen ini sudah masuk ke dalam ranah pidana, makanya tidak bisa sembarangan. Kalau agen ya agen saja, jangan pula sampai menjual ke toko-toko karena itu adalah kerjanya pangkalan,” tutup Endre.

Komentar

Agen Elpiji Gas Elpiji