Dibalik Kepergian Mahar

Verrys “Mahar” Yamarno Foto: tempo.co

Verrys Yamarno yang dikenal melalui gaya eksentriknya dalam memerankan Mahar di film Laskar Pelangi kembali diberitakan karena ditemukan meninggal di kamar kosnya di Jln. Kramat V RT/RW 05/09 No. 13 Kel. Kenari, Kec. Senen, Jakarta Pusat, Senin (12/1) pukul 14.30 WIB. Pria 18 tahun yang identik dengan radio dan lagu Bunga Seroja itu diketahui meninggal setelah ditemukan tergeletak di tempat tidur oleh teman satu kosnya Zulfany Fana, pemeran Ikal di film yang sama. Kepergian Verrys sangat mengejutkan dan menarik perhatian banyak pihak termasuk Andrea Hirata (penulis novel Laskar Pelangi), Mira Lesmana (produser Laskar Pelangi), Riri Riza (sutradara Laskar Pelangi) dan para pemain Laskar Pelangi lainnya. Akan tetapi, masih ada cerita-cerita lain dibalik kepergian Verrys yang juga menarik untuk diberitakan.

Kehidupan Keluarga

Verrys Yamarno lahir di Desa Rasau, Gantung, Belitung pada 17 Maret 1996, anak bungsu dari dua orang bersaudara. Orang tuanya Normala dan M. Yamin bercerai saat usianya tujuh tahun. Ia tinggal bersama kakak dan ibunya dalam kehidupan yang pas-pasan. Bahkan dua tahun lalu rumah kayu mereka di Belitung belum dialiri arus listrik karena tidak memiliki biaya untuk mendaftar ke PLN. Verrys menempuh pendidikan di SMP Nasional Gantung, SMAN 1 Gantung dan pendidikan terakhirnya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kehidupan Setelah Laskar Pelangi

Setelah ikut berperan dalam film Laskar Pelangi, kehidupan Verrys dan keluarga tidak banyak perubahan. Mereka tetap hidup sederhana dan tidak secemerlang film yang ia mainkan. Ia mendapat penghasilan sebanyak 24 juta rupiah setelah bermain di Laskar Pelangi. Selain itu, ia juga pernah bermain di sinetron Cinta Fitri selama 12 episode dengan bayaran 750 ribu rupiah per episodenya. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari bersama ibunya.

“Saya dikontrak di film itu 8 juta. Kemudian dapat royalti 6 juta ditambah dari Miles Co 10 juta. Jadi total saya dapat dari main film itu sekitar 24 juta,” ujarnya saat itu.

Namun, setelah itu ia dan anak-anak Laskar Pelangi lainnya tidak mendapat perhatian dari pemerintah Belitung bahkan setelah memajukan pariwisata Belitung akibat film tersebut. Saat pulang kampung ke Sungailiat, Kabupaten Bangka dua tahun lalu, Verrys hanya menaiki kapal selama lima jam dari Belitung karena tidak mampu membeli tiket pesawat. Selain itu, ia juga pernah meminta ongkos pulang kepada ayahnya. Oleh karena itu, Verrys dan anak Laskar Pelangi lainnya merasa kecewa kepada pemerintah Belitung.

Selain itu, ia juga pernah menceritakan keinginannya untuk kuliah kepada seorang pemuda Belitung, Jauhari. Sehingga Jauhari mempublikasikan kehidupan anak-anak Laskar Pelangi di media lokal. Setelah itu, barulah ada tawaran bagi mereka untuk kuliah dari Pertamina. Jauhari juga pernah mengajukan agar Verrys dan kawan-kawan menjadi duta pariwisata Belitung dan mendapat penghasilan tetap, tetapi tidak ada tanggapan dari pemerintah Belitung.

Kecelakaan yang Menyebabkan Pendarahan di Otak

Saat berumur 14 tahun, Verrys mengaku pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkannya tidak sadarkan diri selama 14 hari dan mengalami pendarahan di otak. Biaya pengobatan saat itu ia dapatkan dari Askes dan hasil bermain film Laskar Pelangi. Akibat kecelakaan tersebut satu ruas jarinya putus dan ia menderita vertigo sehingga sering mengalami sakit kepala dan pusing. Namun, Verrys tidak mau berobat ke dokter saat sakitnya kambuh. Jika kambuh, ia hanya mau pulang ke Belitung dan mengkonsumsi madu.

Hal inilah yang menyebabkan Verrys tidak masuk kuliah saat itu, karena ia mengalami pusing dan mual. Bahkan pada pukul 08.00 WIB, ia diketahui muntah-muntah oleh teman satu kosnya, Zulfany. Akan tetapi, Verrys tidak mau dibawa ke dokter dan memilih beristirahat di kamarnya. Pada pukul 14.30 WIB saat Zulfany pulang kuliah, ia mendapati Verrys sudah tidak bernafas lagi. Zulfany juga membantah bahwa kematian Verrys diakibatkan karena mengkonsumsi obat-obat terlarang.

“Dia nggak macam-macam (narkoba), ngerokok saja nggak. Pas penyakitnya datang dia cuma minum air putih saja, bangun dan nggak macam-macam,” kata Zulfany.

Komputer dari SBY dan Beasiswa Pertamina

Verrys dan kawan-kawan berkesempatam bertemu Presiden SBY serta pergi ke luar negeri karena kesuksesan Laskar Pelangi. Bahkan mereka mendapatkan hadiah komputer dari Presiden SBY dan PT. Pelindo. Namun, komputer pemberian SBY tersebut rusak pada tahun 2012 setelah beberapa tahun digunakan. Selain itu, mereka juga mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk kuliah di IKJ dan sedang menduduki semester tiga.

Harus Menahan Nafsu Makan saat Bermain Laskar Pelangi

Verrys saat ini memang terlihat lebih berisi daripada saat berperan sebagai mahar. Ketika berada di Jakarta dan jauh dari pengawasan ibunya ia akan melahap apa saja. Sebenarnya selama shooting Laskar Pelangi ia harus rela menahan nafsu makannya agar tubuhnya tak melebar.

“Waktu syuting, makananku memang dibatasi. Itu perintah langsung dari Mas Riri Riza, karena perannya, kan, jadi anak orang miskin. Masa anak orang miskin gemuk?” katanya saat diwawancarai saat itu.

Senang Bermusik dan Bercita-cita Menjadi Ustadz

Verrys menyukai alat musik pukul terutama drum. Bahkan penghasilan Laskar Pelanginya sebagian digunakan untuk membeli MP 4 Player dan seperangkat drum mainan. Ia menyukai lagu-lagu dari Chrisye, Ebiet G. Ade, Koes Plus dan Siti Nurhaliza. Bahkan jika memiliki uang saku berlebih, Verrys dan teman-temannya akan berlatih di studio band kampung sebelah. Namun, Verrys mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi ustadz.

Postingan Terakhir

Inilah postingan terakhir Verrys di akun facebooknya pada tanggal 13 November 2014.

“Aku bagaikan berjalan di atas angin melangkah tanpa berpijak tapi satu hal yang membuatku untuk terus melangkah. Ibu”, tulisnya.

Komentar

Laskar Pelangi Verrys Yamarno