Di Semarang, Seniman dan Aktivis Peringati Wafatnya Munir

Munir. Foto : Istimewa
Munir. Foto : Istimewa

Seniman teater dan budayawan Widyo “Babahe” Leksono mengingatkan mahasiswa dan aktivis, yang mengenang 10 tahun kematian aktivis HAM Munir Said Thalib, lewat seni pertunjukan “Mati Munir Satu Tumbuh Munir Seribu”. Pagelaran kesenian teater itu dimulai Minggu (7/9), sekitar pukul 06.00 WIB di Car Free Day, Jalan Pahlawan, Semarang. Aksi yang berpusat di depan gerbang DPRD Jateng itu mengajak serta 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang.

Dalam penampilan berdurasi satu jam itu, Babahe merepresentasikan kisah perjuangan Munir. Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia (Imparsial) itu meninggal di dalam pesawat Garuda Indonesia GA 974 jurusan Amsterdam. Racun arsenik yang dicampurkan dalam jus jeruk mengakhiri hidupnya pada usia 38 tahun.

Keberanian Munir dalam membela korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) telah menginspirasi ribuan aktivis di tanah air. Babahe menggambarkannya dengan ratusan bendera merah putih yang tertancap menyebar di 10 batang pisang. Tapi kemudian Munir dibunuh, dan kematiannya membuat ribuan “munir” baru melanjutkan perjuangannya.

Dalam pertunjukan, jenazah “Munir” yang ditancapi ratusan bendera merah putih kemudian digotong beramai-ramai. Dari Jalan Pahlawan, jenazah diusung ke Taman Menteri Supeno, kemudian diangkut dengan mobil pick up untuk dilarung di Sungai Banjir Kanal Barat.

Selain Babahe, pagi itu puluhan kartunis yang tergabung dalam Semarang Cartoon Club (Secac) dan Rumah Kartun Indonesia juga beraksi. Mereka serempak menggambar kartun di kertas sepanjang 500 meter. Kertas itu diletakkan memanjang dari bundaran air mancur hingga depan DPRD Jateng.

Pekan Peringatan 10 Tahun Kematian Munir yang diselenggarakan Koalisi Semarang untuk Munir akan berlanjut malam nanti pukul 19.00 di Gedung Notariat, Kampus Universitas Diponegoro, Pleburan. Rencananya, Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi akan membuka pameran lukisan tunggal “Tribute to Munir” karya perupa Solo Saifuddin Hafiz.

(Aktual.co)

Loading...

Comment