Kabarpadang.com
Mengabarkan Ranah Minang

“Ceritaku di Negeri Teknik”

ITINegara Jerman? siapa yang menduga dapat bersekolah di negeri dengan alam yang dingin ini. Kalau sekilas terdengar memang sepertinya menggembirakan, asik dan sebagainya. Jerman adalah Negara yang penuh dengan gagasan. Tapi, siapa sangka untuk bersekolah disini tidak semudah yang di bayangkan. Negeri 4 musim sungguh mempesona saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Negara ini. Semua juga sudah tahu bukan dengan sejarah Negara jerman? Runtuhnya tembok Berlin yang sempat membagi Negara ini menjadi dua bagian? Tapi itu sudah lama berlalu.

Kali ini, kota Aachen menjadi tempat tinggal saya sementara, Jerman bagian barat yang termasuk dalam NRW (North Rheis Westfallen) Aachen dan biasa di kenal dengan kota pelajar, serta tempat kuliahnya mantan Presiden  B.J Habibie.

Jerman yang dikenal sebagai Negara Teknik ini, sistem sekolahnya pun disini ternyata lebih sulit dari yang di bayangkan. Jika pada Indonesia diwajibkan belajar 12 Tahun, namun disini sistem wajibnya adalah 13 tahun. Tak hanya itu, jika ingin belajar disini pun kita diwajibkan memiliki sertifikat belajar bahasa Jerman selama 600 jam dan mendapatkannya juga tidak sembarangan. Itu alasan saya sampai hari ini masih menjalani wajib belajar bahasa jerman di salah satu kursus bahasa yang tersedia di kota Aachen ini.

Mengenai bahasa, bahasa Jerman pun tidak semudah yang saya bayangkan, mungkin lebih sulit dari bahasa inggris. Penggunaan kalimat maupun pola gramatiknya pun beraneka ragam hingga membuat otak begitu pusing. Bukannya menakuti, tapi itulah yang saya rasakan selama belajar bahasa ini. Perasaan campur aduk yang harus dialami, untuk saat ini pun saya belum bisa mendeskripsikan lebih luas tentang bahasa karena masih pelajar yang belajar mendalami bahasa asing ini.

RWTH, Aachen merupakan salah satu Universitas terbaik yang ada di Kota pelajar dengan teknik mesinnya. Aachen hanya kota kecil yang mungkin lebih kecil di bandingkan Kota Padang.

Mengenai sistem belajar 13 tahun itu. Kenapa harus 13 tahun? Menurut yang saya ketahui, 1 tahun terakhir itu adalah dimana para pelajar mengenal dunia perkuliahan, tidak intens atau mengenal sedikit. Hal ini sama dengan kita duduk di kelas 12, tapi mereka disini menyebutnya Studienkolleg atau sekolah Pra Kuliah. Cara masuknya pun harus mendaftar, sama persis pada saat kita mendaftar di Universitas, tapi studienkolleg ini tidak untuk penduduk asli Negara Jerman melainkan untuk pelajar dari Negara lain. Kata mereka, Studienkolleg ini diadakan untuk menyetarakan pendidikan dari berbagai Negara.

Tahap pendaftarannya pun dibagi menjadi dua musim, Winter semester dan Sommer semester. Studienkolleg biasanya berlangsung selama 1 tahun atau kurang, itu tergantung dari universitas masing-masing bahkan tidak semua Universitas memiliki studienkolleg.

Jerman pun membagi 2 sistem perkuliahannya sama seperti kita di Indonesia yakni Universitas dan Fachoschule. Apa bedanya? Bedanya, jika kita di Universitas lebih di ajarkan banyak mengarah teori sedangkan Fachoschule lebih kepada praktek serta dibagi dalam 5 bagian.

M-Kurs (Medizin Kurs) mempelajari ilmu kedokteran, T-Kurs (Technik Kurs) mempelajari teknik atau informatika, W-Kurs (wirschaft Kurs) mempelajar bisnis, psikolog bisnis dan akuntan. Bahkan, ada juga yang mempelajari ilmu sosial yang disebut S-Kurs (Sozial Kurs) lalu G-Kurs (Gemanistik Kurs) mempelajari sastra Jerman.

ITI2Adapun Sistem penilaian mereka berbanding terbalik dengan Indonesia. Jika di Indonesia angka 4 merupakan nilai sempurna, namun di Jerman nilai 1 lah yang menjadi nilai sempurna.

Sekarang kita telusuri lebih dalam kebiasaan kehidupan masyarakat Jerman. Dalam setiap kali berinteraksi mereka lebih sering menggunakan kata sapaan, seperti “Hallo” atau “Guten Tag” dan juga perpisahan “Tschüss”, Itu hal wajar serta wajib kita terapkan saat kita berada disini.

Masalah iklim? sudah tau pasti Negara 4 musim memiliki siklus pergantian musim setiap 3 bulan. Musim panas di Negara Eropa ini tidaklah sepanas Negara Adidaya Amerika yang bisa mencapai 34°C lebih, tapi yang pernah saya rasakan masih sama dengan Kota Padang.

Musim gugur Jerman terbagi menjadi dua, dingin dan hujan, karena itu persiapan baju tebal memang harus sangat di perhatikan untuk menahan dinginnya iklim.

Menurut masyarakat Kota Aachen yang pernah ditanyai, musim dingin atau salju di Kota ini tidak sedingin Negara Jerman pada bagian utara maupun timur. Turunnya salju juga tidak setebal dari daerah  bagian Negara Jerman lainnya. Terutama yang terpenting bagi saya sendiri, iklim terbaik tetaplah Indonesia.

Banyak sekali pelajaran yang sangat saya rasakan selama tinggal disini. Mulai dari belajar hidup mandiri, mengatur keuangan, pola makan, menjaga kesehatan dan mengatur semua jadwal dengan sebaik-baiknya. Awalnya tak mudah, tapi itu harus dilakukan. Belajar dengan lebih giat dan keras termasuk cambukan jika ingin mendapatkan satu tempat di Negara ini. Tidak mudah seperti yang dipikirkan, tapi keyakinan dan doa diiringi usahalah  pasti membuat kita berhasil.

Seperti kalimat penguat ini, “Jika orang lain bisa, mengapa kita tidak?”.

Editor: Redaksi Kabar Padang/*WN

Oleh: Annisa Istiqa Suwondo

Komentar
Loading...
BERITA TERKAIT