“Behind The Scene” Eksekusi Mati

Ilustrasi Eksekusi Mati Foto: liputan6.com

Ilustrasi Eksekusi Mati Foto: liputan6.com

Eksekusi mati yang telah dilakukan terhadap 6 terpidana kasus narkoba pada Minggu (18/1) dini hari masih menyisakan cerita-cerita sedih dan mengharukan. Dimulai dari sebelum eksekusi hingga keenam terpidana dikebumikan. Walaupun mereka diketahui ketakutan sebelum menjalani eksekusi, namun hukum tetap harus dijalankan.

“Mereka ketakutan saat tahu diputuskan MT dan segera dieksekusi. Biasanya mereka sudah membayangkan hal yang buruk, jadi takut,” kata Pendeta Titus salah satu rohaniawan pendamping saat diwawancara, Sabtu 18 Januari 2015.

Berikut ini adalah beberapa fakta sekitar eksekusi mati tersebut:

10 menit untuk Memastian Kematian

Para terpidana mati dieksekusi dengan cara diikat pada tiang kemudian ditembak oleh regu penembak khusus yang telah disiapkan. Setelah ditembak, butuh waktu 10 menit untuk memastikan kematian terpidana tersebut sebelum ikatannya dilepas dan jenazahnya dibersihkan.

“Ada tim dokter yang sudah disiapkan. Jika sudah dipastikan, baru dilepaskan dari tiang penyangga untuk selanjutnya dibersihkan,” jelas Jaksa Agung HM. Prasetyo.

”See you again tomorrow” dan Surat Wasiat dari Naomana Denis

Naomana Denis (48) yang bernama asli Salomon Chibuke Okafer merupakan warga negara Malawi yang dihukum mati akibat membawa heroin seberat 1.000 gram. Hingga menjelang eksekusinya, ia masih berjuang untuk mendapatkan keadilan. Ia telah mengajukan berbagai gugatan dan Peninjauan Kembali (PK) terhadap kasusnya, tetapi tidak berhasil. Bahkan Komnas HAM keberatan akan hukuman mati Denis tersebut. Akibatnya, merasa telah terdiskriminasi oleh negara ini, sehingga ia menitipkan surat terakhir kepada istrinya yang berkewarganegaraan Indonesia untuk diberikan kepada Presiden Jokowi dan seluruh rakyat Indonesia.

Selain itu, Denis tidak memiliki permintaan terakhir sebelum eksekusinya bahkan ia tidak mengucapkan selamat tinggal.

Sorry to say, I don’t say good bye but I will say see you again tomorrow”. Itulah ucapannya yang kontroversial. Sedangkan surat terakhirnya berisi:

Assalamualaikum.                                                        

Saya Namaona Denis…orang miskin yang bangkrut dan terpaksa menjadi kurir.

Saya bukan bandar narkoba. Kepada Bapak Presiden dan seluruh rakyat Indonesia, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya karena sebagai manusia, saya tidak lepas dari kesalahan.

Perubahan hukuman saya dari seumur hidup menjadi pidana mati setelah selama 14 tahun berjalan telah merampas keadilan yang sampai saat ini saya perjuangkan.

Saya mohon kepada masyarakat memahami perjuangan saya memperoleh keadilan agar tidak ada orang lain mengalami perlakuan seperti saya. Karena ternyata berkelakuan baik dan patuh pada aturan hukum di negara ini saja tidak cukup untuk memperoleh keadilan.

Karena itu, melalui surat ini, saya masih terus memperjuangkan keadilan yang tidak pernah saya dapatkan.

Dan atas nama saya dan keluarga, berkali-kali saya memohon ampun kepada Allah dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.

Wassalam mualaikum warohmatulohi wabarokatuh.

Nyanyian dan Dandanan Asien

Lain halnya dengan Tran Thi Bich Hanh (37) yang biasa dipanggil Asien asal Vietnam ini. Menjelang eksekusinya, Asien kadang terlihat tenang, kadang sedih bahkan kadang menangis sesunggukan. Akan tetapi, saat akan menjalani eksekusi ia tampak tegar dengan setelan putih-putihnya yang dilengkapi dengan topi putih. Bahkan ia juga berdandan dan menyanyi ringan sebelum dieksekusi.

Asien memiliki permintaan terakhir agar tidak diborgol saat dieksekusi. Selain itu, ia meminta rokok kepada petugas lapas walaupun lapas tersebut daerah bebas rokok. Asien juga menerima kiriman Pho, hidangan mi berkuah dari Vietnam dengan tambahan daging sapi yang diantarkan langsung oleh perwakilan Kedutaan Besar Vietnam di Indonesia.

Doa untuk Rani Adriani dan Pengobatan Ang Kim Soei

Rani Adriani alias Melissa Aprilia merupakan terpidana asal Indonesia yang tersangkut kasus penyelundupan heroin seberat 3,5 kilogram. Saat menjalani eksekusi Rani mengenakan baju putih. Bahkan sebelumnya, ia telah menyelesaikan puasa 40 hari dan berdoa bersama keluarganya.

Sedangkan Ang Kim Soei asal Belanda menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan mengobati orang-orang yang kurang mampu. Ia memang terkenal dengan pengobatan herbal gratisnya yang manjur. Semua pasiennya menyayangkan hukuman mati yang menimpanya.

Tempat Peristirahatan Terakhir

Tiga dari enam terpidana mati meminta agar jenazah mereka dikremasi setelah eksekusi. Jenazah Ang Kim Soei dan Marco Archer Cardoso (Brazil) dikremasi di Giri Laya, Kalibagor, Banyumas, Jawa Tengah. Kemudian jenazah Tran Thi Bich Hanh juga dikremasi di Semarang dan abunya dikuburkan di sebelah makam pendetanya yang juga di Semarang. Diketahui tidak ada tangisan saat jenazahnya dikremasi, hanya ada penghormatan yang khidmat.

Sedangkan jenazah Naomana Denis dimakamkan di pemakaman Nusakambangan dan jenazah Rani Adriani dimakamkan di samping makam ibunya di Cianjur. Kemudian jenazah Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (Nigeria) diminta kedutaan besarnya untuk dikirim ke Jakarta sebelum dibawa ke negaranya.

Penarikan Dubes Belanda dan Brazil dari Indonesia

Beberapa negara asing seperti Belanda dan Brazil sangat keberatan dengan hukuman mati yang dijatuhkan kepada warga negaranya yang menjadi terpidana. Belanda misalnya sangat mengecam adanya hukuman mati karena dinilai melanggar hak asasi manusia. Menteri Luar Negeri hingga Raja Belanda telah berupaya menghubungi Presiden Jokowi terkait hukuman tersebut, namun tetap ditolak karena proses hukum telah berjalan.

Sedangkan Presiden Brazil, Dilma Rousseff, menghubungi langsung Presiden Jokowi via telepon untuk meringankan hukuman warga negaranya, Marco Archer Cardoso, dan terpidana lainnya. Namun, hasilnya sama saja. Hal ini menyebabkan Dubes Belanda dan Brazil di Indonesia ditarik ke negaranya untuk konsultasi. Selain itu, hubungan bilateral Indonesia dengan kedua negara tersebut juga terganggu. Bahkan perwakilan tinggi Uni Eropa, Frederica Mogherin, dikabarkan telah mengeluarkan pernyataan tentang kecaman terhadap hukuman mati atas inisiatif Belanda.

 

Komentar

Eksekusi Mati